Rabu, 05 Januari 2011

Korban Pembantaian Terhadap Umat Islam di berbagai Belahan Dunia

korban genosida Muslim sepanjang sejarah, sebagaimana dirilis oleh By The Canadian Islamic Congress:

1)70.000 penduduk Yerusalem, sebagian besar umat Islam, dibantai oleh Tentara Salib Eropa pada tanggal 15 Juli 1099, pembantaian itu menyebabkan banjir darah sedalam pergelangan kaki.

2)Setelah pembantaian Antiokhia oleh Tentara Salib Eropa pada Juni 1098 dimana tak ada seorang Muslimpun masih hidup. Pembantaian juga terjadi di Asklan (1099), Aka (1104), Antiokhia (1098), Beruit (1110) dan Tropolie (1102).

3)Masa Inkuisisi di Spanyol dan Portugal (1834), pilihan bagi umat Islam adalah pergi, konversi atau dibakar di tiang. Keputusan tersebut baru dicabut pada 15 Juli 1834, setelah semua Muslim terbunuh atau lari. Pembantaian Muslim juga terjadi di Toledo (1085), Lisbon (1147), Cordoba (1236), Seville (1248), Maria (1266) dan Granada (1492).

4)Mongol membantai jutaan Muslim di India, Persia, Irak dan Asia Tengah, termasuk membantai Khalifah Abbasia dan pejabat-nya (1219-1260). Peristiwa the Sack of Baghdad (13 Februari 1258) membantai penduduk selama lebih dari 17 hari di mana dua juta umat Islam dibantai di sana.

5)Di Bosnia, Kosovo dan Chechnya (1992-sekarang), lebih dari 200.000 Muslim dibantai dan lebih dari 1,5 juta Muslim terluka, menjadi tunawisma atau diasingkan. Lebih dari 50.000 muslim wanita dan anak perempuan diperkosa.

6)Masa awal berdirnya Amerika, sekitar 15 juta orang Afrika dibawa sebagai budak ke Amerika. Lebih dari setengahnya adalah Muslim. Lebih dari 3 juta tewas di laut, lebih dari setengahnya adalah Muslim.

7)Setelah pembantaian Deir Yassin, Palestina, 9-10 April 1948, dimana 250 dibunuh oleh pemukim Yahudi bersenjata, sekitar 100 ribu meninggalkan rumah mereka karena ketakutan. Dan saat ini lebih dari 3 juta warga Palestina menjadi pengungsi atau dan orang-orang buangan.

8)Tentara Israel Letnan Dunhan melaporkan kepada petugas perintahnya, setelah 29 Oktober 1956 pada pembantaian Kafr Qasem,” 43 telah ditembak tidak termasuk 15 yang dari Arab … sulit untuk dihitung …”

9)Selama 15-18 September 1982, milisi Phalagist yang didukung Israel membantai 50.000 orang Palestina, diperkirakan di kamp pengungsi Sabra dan Shatila di Libanon.

10)Selama tahun 1932-1957, di kamp konsentrasi Vorkuta Arktik, Rusia, sebanyak 6 juta orang meninggal dan lebih dari sepertiganya adalah Muslim.

11)Pada tanggal 25 Februari 1994, warga Yahudi menembak mati dengan darah dingin sebanyak 60 Muslim di Masjid Ibrahimi, Hebron. Selanjutnya tiga puluh orang lebih meninggal ketika mereka berdemonstrasi menentang pembantaian tersebut.

12)Pada tanggal 16 Maret 1988, di kota Kurdi Halabja (populasi 45.000), Irak, dibombardir dengan senjata kimia (oleh rezim Saddam Husain). 5.000 orang diperkirakan meninggal dan 1.000 lainnya mengalami luka serius.

13)Selama 8 tahun terakhir, pasca invasi Amerika ke Irak, seluruh penduduk Irak berada dalam kondisi horror, lebih dari 1 juta meninggal termasuk 575.000 anak-anak.

14)Ribuan Muslim dibantai di Filipina, Kashmir dan Thailand (sejak 1970′s-sekarang).

15)Pada tanggal 18 April 1996, lebih dari 100 Muslim dibantai di kompleks PBB di Qana, Lebanon oleh tentara Israel.

16)Jutaan warga sipil Muslim dibantai oleh kekuatan kekaisaran Eropa di Afrika dan Asia (1500 ke 1900-an).

17)Ratusan ribu Muslim dibantai selama dan sebelum partisi India pada 1940-an.

18)Ribuan warga sipil Muslim menjadi korban pemboman Israel dan pemboman di Lebanon Selatan selama 26 tahun terakhir. Ratusan ribu orang mengungsi.

Selasa, 04 Januari 2011

Seratus Tokoh Islam Terkemuka

570 - 623 Muhammad bin Abdullah - Rasulullah
573 - 634 Abu Bakar Ash Shiddiq - Khalifah 1
592 - 644 Umar bin al-Khatab - Khalifah 2
576 - 656 Usman bin Affan - Khalifah 3
600 - 661 Ali bin Abi Thalib - Khalifah
641 - Khalid bin al-Walid - Panglima Perang Pasukan Islam
575 - 664 Amr bin Ash - Penakluk & Gubernur Mesir
600 - 680 Muawiyyah - Khalifah 1 Ummayah
620 - 673 Ziyad bin Abih - Gubernur Kufah - Basrah
646 - 705 Abdul Malik bin Marwan - Khalifah 5 Ummayah
661 - 714 Al-Hajjaj bin Yusuf - Gubernur Hijaz
640 - 715 Musa bin Nushayr - Penguasa Maroko & Andalusia
669 - 715 Qutaybah bin Muslim - Panglima Perang � Gubernur Irak
699 - 767 Abu Hanifah al-Nu'man - Imam Mazhab Hanafi
712 - 775 Al-Manshur al-Abbasi - Khalifah Utama Abasiyah
712 - 796 Imam Malik - Imam Mazhab Maliki � Al-Muwatta
791 - Al-Khalil bin Ahmad - Ahli Nahwu
761 - 793 Sibawayh - Ahli Nahwu / Murid
752 - 804 Muhammad bin al-Hasan al-Syaibani - Penulis Hukum
721 - 815 Jabir bin Hayyan - Pakar Kimia
747 - 815 Abu Nawas - Sastra
767 - 820 Imam Asy-Syafei - Imam Mazhab Syafei - Al Umm
747 - 823 Al-Waqidi - Sejarah
786 - 833 Al-Ma'mun - Khalifah
780 - 848 Muhammad bin Musa al-Khawarizmi - Algoritma
780 - 855 Ahmad bin Hanbal - Imam Mazhab Hanbali - Al Musnad
776 - 869 Al-Jahizh - Sastra
810 - 870 Al-Bukhari - Ulama Hadits
817 - 880 Imam Muslim - Ulama Hadits
801 - 873 Ya'qub bin Ishaq al-Kindi - Filsafat
835 - 883 Ahmad bin Thulun - Pemakmur Mesir
887 - Abbas bin Farnas - Orang bijak Andalusia
828 - 889 Ibn Qutaybah - Kadi / Ilmuwan
895 - Abu Hanifah al-Dinawari - Sejarah
910 - Al-Junayd - Sufi Bagdad
921 - Al-Hallaj - Sufi Khurasan
839 - 923 Muhammad bin Jarir at-Thabari - Ulama tafsir
858 - 925 Abu Bakar ar-Razi - Dokter
859 - 929 Al-Battani - Astronomi
873 - 935 Abu Hasan al-Asy'ari - Ahlus Sunah Wal Jamaah
870 - 950 Al-Farabi - Filosof Rasionalis
956 - Al-Mas'udi - Sejarah
891 - 961 Abdurrahman al-Nashir - Kalifah
915 - 965 Al-Mutanabbi
897 - 967 Abu al-Faraj al-Isfahani - Penulis
940 - 998 Abu al-Wafa al-Bawzajani - Ilmu pasti
948 - 1000 Muhammad bin Ahmad al-Maqdisi - Geografi
940 - 1020 Al-Firdawsi - Sastrawan
923 - 1032 Abu Hayyan at-Tawhidi - Sastrawan Filsuf
1030- Miskawayh - Sejarah
980 - 1037 Ibnu Siena - Kedokteran - asy-Syifa & al-Qonun
965 - 1039 Ibnu al-Haytsam - Ilmu alam
973 - 1048 Al-Biruni - Sejarah
937 - 1057 Abu al-Ala al-Ma'arri - Penyair
994 - 1064 Ibnu Hazm - Prosa
1018 - 1092 Nizham al-Mulk - Administrasi
1058 - 1111 Al-Ghazali - Teolog Islam - Ihya ulumuddin
1054 - 1122 Al-Hariri - Sastra Bahasa
1038 - 1123 Umar al-Khayyam - Ilmu pasti & Sastra
1100 - 1166 Al-Idrisi - Ilmu bumi dan Falaq
1105 - 1185 Ibn Thufayl - Filsuf Kedokteran dll
1138 - 1193 Shalahuddin al-Ayyubi - Sultan kurdi
1126 - 1198 Ibn-Rusyd - Filsafat Kedokteran dll
1135 - 1217 Ibn Jubair - Pengembara
1179 - 1229 Yaqut al-Hamawi - Ensiklopedi geografi
1160 - 1233 Izzuddin bin al-Atsir - Sejarah
1165 - 1240 Muhyiddin bin Arabi - Sufi
1207 - 1273 Jalaluddin ar-Rumi - Penyair Sufi
1201 - 1274 Nashiruddin at-Thusi - Astronom
1277 - Al-Zahir Beybres - Panglima Perang
1211 - 1282 Ibn Khallikan - Sastrawan Saljuk
1210 - 1288 Ibn al-Nafis - Dokter & Penulis
1291 - Sa'di asy-Syirazi - Penyair
1263 - 1328 Ibn Taimiyyah & Ibn Qoyyim al-Jauziyyah
1304 - 1369 Ibn Batutah - Pengembara
1313 - 1374 Ibn al-Khathib - Penyair Kedokteran dll
1320 - 1390 Hafizh al-Syirazi - Penyair
1332 - 1406 Ibn Khaldun - Ilmu sosial & sejarah
1364 - 1442 Al-Maqrizi - Sejarah
1429 - 1481 Sultan Muhammad II al-Fatih - Penakluk Constantin
1414 - 1492 Abdurrahman al-Jami - Penyair Sufi
1445 - 1505 Jalaluddin as-Suyuthi - Ulama besar
1542 - 1605 Akbar - Sultan Moghul india
1571 - 1629 Syah Abbas 1 al-akbar Syeh syafawiyyah - Iran
1703 - 1791 Muhammad bin Abd al-Wahhab - Gerakan Wahabbi
1753 - 1825 Al-Jabarti - Sejarah
1769 - 1849 Muhammad Ali - Pembaharu Mesir
1801 - 1873 Rifa'ah al-Thahthawi - Pembaharu Mesir
1808 - 1883 Abd al-Qodir al-Jazairi - Al jazair
1822 - 1884 Madhat Padya - Pembaharu Politik
1822 - 1890 Khayruddin al-Tunisi - Daulah Usmaniah Tunisia
1838 - 1897 Jamaluddin al-Afgani - Penulis & Orator
1817 - 1898 Sayid Ahmad Khan - Pembaharu India
1845 - 1905 Muhammad Abduh - Ulama Pembaharu Mesir
1899 - 1937 Abdurrauf Fithrah - Penulis Pembaharu
1880 - 1938 Kamal Ataturk - Bapak Negara Turki
1890 - 1946 Ahmad Kasrawi - Pemikir Iran
1918 - Ahmad deedat - Kristologi
1926 - Yusuf Qordawi - Ulama - Fatwa
1956 - Harun Yahya - Ilmuwan Islam

Senin, 03 Januari 2011

Perbandingan Antara Ajaran Yesus dengan Ajaran Kristen

1. Yesus adalah utusan Tuhan (ajaran Yesus)

Kedua belas murid itu diutus oleh Yesus dan Ia berpesan kepada mereka: "Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. (Matius 10:5-6)

Jawab Yesus: "Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel." (Matius 15:24)

Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku." (Yohanes 11:42)

Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. (Yohanes 17:3)

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi dari pada tuannya, ataupun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan barangsiapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku. (Yohanes 13:16,20)

Kamu telah mendengar, bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku. (Yohanes 14:28)

1. Yesus adalah Tuhan (Ajaran Kristen)

Namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup. (1 Korintus 8:6)

Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. (Roma 10:9)

2. Yesus menggenapi hukum Taurat.

"Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. (Matius 5:17)

Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. (Matius 5:18)

Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga. (Matius 5:19)

Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. (Matius 5:20)

2. Kristen menghapus hukum Taurat

Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: "tidak ada seorangpun yang dibenarkan"

oleh karena melakukan hukum Taurat. (Galatia 2:16)

3. Yesus Menjalankan Hukum sunat

Dan ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya. (Lukas 2:21)

Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat; (Kejadian 17:10)

haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan kamu. (Kejadian 17:11)

Anak yang berumur delapan hari haruslah disunat, yakni setiap laki-laki di antara kamu, turun-temurun: baik yang lahir di rumahmu, maupun yang dibeli dengan uang dari salah seorang asing, tetapi tidak termasuk keturunanmu. (Kejadian 17:12)

Orang yang lahir di rumahmu dan orang yang engkau beli dengan uang harus disunat; maka dalam dagingmulah perjanjian-Ku itu menjadi perjanjian yang kekal. (Kejadian 17:13)

Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjian-Ku." (Kejadian 17:14)

Kemudian Abraham menyunat Ishak, anaknya itu, ketika berumur delapan hari, seperti yang diperintahkan Allah kepadanya. (Kejadian 21:4)

3. Ajaran Kristen menolak hukum Sunat

Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih. (Galatia 5:6)

Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak penting. Yang penting ialah mentaati hukum-hukum Allah. (1 Korintus 7:19)

Ciri Istri Sholehah

Istri yang shalehah adalah yang mampu menghadirkan kebahagiaan di depan mata suaminya, walau hanya sekadar dengan pandangan mata kepadanya. Seorang istri diharapkan bisa menggali apa saja yang bisa menyempurnakan penampilannya, memperindah keadaannya di depan suami tercinta. Dengan demikian, suami akan merasa tenteram bila ada bersamanya.

Mendapatkan istri shalehah adalah idaman setiap lelaki. Karena memiliki istri yang shalehah lebih baik dari dunia beserta isinya. ''Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah istri shalehah.'' (HR Muslim dan Ibnu Majah).

Di antara ciri istri shalehah adalah, pertama, melegakan hati suami bila dilihat. Rasulullah bersabda, ''Bagi seorang mukmin laki-laki, sesudah takwa kepada Allah SWT, maka tidak ada sesuatu yang paling berguna bagi dirinya, selain istri yang shalehah. Yaitu, taat bila diperintah, melegakan bila dilihat, ridha bila diberi yang sedikit, dan menjaga kehormatan diri dan suaminya, ketika suaminya pergi.'' (HR Ibnu Majah).

Kedua, amanah. Rasulullah bersabda, ''Ada tiga macam keberuntungan (bagi seorang lelaki), yaitu: pertama, mempunyai istri yang shalehah, kalau kamu lihat melegakan dan kalau kamu tinggal pergi ia amanah serta menjaga kehormatan dirinya dan hartamu ...'' (HR Hakim).

Ketiga, istri shalehah mampu memberikan suasana teduh dan ketenangan berpikir dan berperasaan bagi suaminya. Allah SWT berfirman, ''Di antara tanda kekuasaan-Nya, yaitu Dia menciptakan pasangan untuk diri kamu dari jenis kamu sendiri, agar kamu dapat memperoleh ketenangan bersamanya. Sungguh di dalam hati yang demikian itu merupakan tanda-tanda (kekuasaan) Allah bagi kaum yang berpikir.''(QS Ar Rum : 21).

Beruntunglah bagi setiap lelaki yang memiliki istri shalehah, sebab ia bisa membantu memelihara akidah dan ibadah suaminya. Rasulullah bersabda, ''Barangsiapa diberi istri yang shalehah, sesungguhnya ia telah diberi pertolongan (untuk) meraih separuh agamanya. Kemudian hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam memelihara separuh lainnya.'' (HR Thabrani dan Hakim).

Namun, istri shalehah hadir untuk mendampingi suami yang juga shaleh. Kita, para suami, tidak bisa menuntut istri menjadi 'yang terbaik', sementara kita sendiri berlaku tidak baik. Mari memperbaiki diri untuk menjadi imam ideal bagi keluarga kita masing-masing.

Daftar Organisasi yang dianggap "TERORIS" oleh Amerika Serikat

1. Kach and Kahane Chai (Israel)
2. Abu Nidal Organization (ANO)
3. Al Shabaab (Somalia)
4. Abu Sayyaf Group
5. Al-Aqsa Martyrs Brigade
6. Ansar al-Islam
7. Armed Islamic Group (GIA)
8. Asbat al-Ansar
9. Aum Shinrikyo
10. Basque Fatherland and Liberty (ETA)
11. Communist Party of the Philippines/New People’s Army (CPP/NPA)
12. Continuity Irish Republican Army
13. Gama’a al-Islamiyya (Islamic Group)
14. HAMAS (Islamic Resistance Movement)
15. Harakat ul-Mujahidin (HUM)
16. Hizballah (Party of God)
17. Islamic Jihad Group
18. Islamic Movement of Uzbekistan (IMU)
19. Jaish-e-Mohammed (JEM) (Army of Mohammed)
20. Jemaah Islamiya organization (JI)
21. al-Jihad (Egyptian Islamic Jihad)
22. Kahane Chai (Kach)
23. Kongra-Gel (KGK, formerly Kurdistan Workers’ Party, PKK, KADEK)
24. Lashkar-e Tayyiba (LT) (Army of the Righteous)
25. Lashkar i Jhangvi
26. Liberation Tigers of Tamil Eelam (LTTE)
27. Libyan Islamic Fighting Group (LIFG)
28. Moroccan Islamic Combatant Group (GICM)
29. Mujahedin-e Khalq Organization (MEK)
30. National Liberation Army (ELN)
31. Palestine Liberation Front (PLF)
32. Palestinian Islamic Jihad (PIJ)
33. Popular Front for the Liberation of Palestine (PFLF)
34. PFLP-General Command (PFLP-GC)
35. Tanzim Qa’idat al-Jihad fi Bilad al-Rafidayn (QJBR) (al-Qaida in Iraq) (formerly Jama’at al-Tawhid wa’al-Jihad, JTJ, al-Zarqawi Network)
36. al-Qa’ida
37. al-Qaida in the Islamic Maghreb (formerly GSPC)
38. Real IRA
39. Revolutionary Armed Forces of Colombia (FARC)
40. Revolutionary Nuclei (formerly ELA)
41. Revolutionary Organization 17 November
42. Revolutionary People’s Liberation Party/Front (DHKP/C)
43. Shining Path (Sendero Luminoso, SL)
44. United Self-Defense Forces of Colombia (AUC)

Minggu, 02 Januari 2011

Para Penghujat Al Quran III

5. Ricoldo da Monte Croce (±1243-1320)

Pada abad ke-13 M, sudah banyak para biarawan dan pen­deta yang mulai mempelajari Islam. Diantaranya Ricoldo da Monte Croce (Ricoldus de Monte Crucis), seorang Biarawan Dominikus. Ia menulis beberapa karya mengenai Islam dalam bahasa Latin. Dalam pandangannya, setan mengarang AI­ Qur'an sekaligus membuat Islam. Ricoldo menyatakan:

"Pengarang bukanlah manusia tetapi setan, yang dengan kejahatannya serta izin Tuhan dengan pertimbangan dosa manusia, telah berhasil untuk memulai karya Anti-Kris­tus. Setan tersebut, ketika melihat iman Kristiani semakin menambah besar di Timur dan berhala sernakin berkurang, dan Heraclius, yang menghancurkan menara menjulang yang dibangun oleh Chosroes dengan emas, perak dan batu-batu permata untuk menyembah berhala-berhala, mengatasi Chosroes pembela berhala. Dan ketika setan melihat palang salib Kristus diangkat oleh Heraclius, dan tidaklah mungkin lagi untuk membela banyak tuhan atau menyangkal Hukum Musa dan Bibel Kristus, yang telah rnenyebar ke seluruh dunia, Setan tersebut merancang sebuah bentuk hukum (agama) yang pertengahan jalan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, dalam rangka untuk menipu dunia. Dengan maksud ini ia memilih Muhammad. "

Selain itu, Ricoldo mengklaim banyak penyimpangan ter­jadi di dalam sejarah Al-Qur'an. Dalam pandangannya, versi qiraah sab`ah tidak sama dengan versi Audala filius Mesetud (`Abdullah ibn Mas`ud), Zeid filius Tampeth (Zayd ibn Tha­bit), Ocanan filius Ophyn (`Uthman ibn `Affan) dan Oenpe tilius Tap (Ubayy ibn Ka`b). Menurut Ricoldo, teks Al ­Qur'an sekarang ini berasal dari perintah dan paksaan Mar­wan ibn al-Hakam kepada orang-orang Islam.

Dalam pandangan Ricoldo, makna sebenarnya ahlul kitab justru merujuk kepada Muslim. Menurutnya lagi, nama­ nama surah-surah di dalam AI-Qur'an seperti Surah Lebah (al-Nahl), Semut (al-Naml) dan Laba-Laba (al-`Ankabut) sangat tidak sesuai untuk disebut sebagai wahyu Tuhan. Selain memuat kata yang tidak senonoh (obscene) seperti zina, Al-Qur'an juga memuat berbagai kata yang tidak penting dan berulang-ulang.

Dalam pandangan Ricoldo, susunan Al-Qur'an sangat tidak sistematis. Tidak ada kronologi waktu, periodesasi raja­ raja, susunan kisah yang teratur, subjek pembahasan, berang­kat dari yang tidak relevan kepada yang tidak relevan lainnya, logika yang tidak tersusun; dari premis yang betul ke hal-hal yang tidak berhubungan.

Ricoldo menyimpulkan: Pertama, Al-Qur'an hanyalah kumpulan bid`ah-bid`ah lama yang telah dibantah sebelumnya oleh otoritas Gereja. Kedua, karena Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tidak memprediksi sebelumnya, maka AI­Qur'an tidak boleh diterima sebagai "hukum Tuhan." Selain itu, doktrin-doktrin Islam mengenai kesalahan agama Kristen dan Yahudi tidak bisa diterima. Ketiga, gaya bahasa Al­ Qur'an tidak sesuai untuk disebut menjadi "Kitab Suci". Ke­empat, klaim AI-Qur'an yang berasal dari ilahi tidak memiliki basis di dalam tradisi Bibel. Selain itu, konsep-konsep etika di dalam Al-Qur'an bertentangan dengan pernyataan-pernyataan filosofis. Kelima, Al-Qur'an penuh dengan berbagai kontradi­ksi internal. Al-Qur'an sangat tidak teratur. Keenam, kebe­naran Al-Qur'an tidak dibuktikan dengan mukjizat. Ketujuh, Al-Qur'an bertentangan dengan akal. Buktinya, kehidupan Muhammad tidak bermoral dan Al-Qur'an memuat hujatan dan pernyataan-pernyataan yang tidak masuk akal mengenai hal-hal ketuhanan dan sebagainya. Kedelapan, Al-Qur'an me­ngajarkan kekerasan untuk menyebarkan Islam dan meng­akui ketidakadilan. Kesembilan, sejarah Al-Qur'an tidak menentu. Kesepuluh, Peristiwa mi`raj adalah fiksi murni dan dibuat-buat.

Tulisan-tulisan Ricoldo terhadap Al-Qur'an sama sekali tidak ilmiah dan sangat sinis. Hujatannya sebenarnya lebih tepat ditujukan kepada Bibel. Ini karena Bibel banyak sekali memuat cerita-cerita yang tidak senonoh dan porno serta tidak masuk akal. Nabi-nabi, yang sepatutnya ditiru, ternyata banyak memiliki skandal seks. Bibel bertentangan dengan sains. Selain itu, sejarah penulisan dan penghimpunan Bibel sangat tidak menentu. Oleh sebab itu, kritikan Al-Qur'an kepada Bibel adalah benar dan logis. Al-Qur'an mengingkari bahwa `Isa as sebagai Tuhan. Mengakui seorang manusia sebagai Tuhan justru tidak masuk akal. Nabi `Isa as. adalah seorang manusia yang berkembang besar dari seorang bayi sehingga menjadi dewasa. Makan, minum, tidur, buang air besar dan air kecil. Jika ia adalah Tuhan yang berbentuk manusia, mengapa ia mengeluh ketika orang-orang Yahudi ingin menyalibnya? Semasa hidupnya, Nabi `Isa as. sangat cinta beribadah kepada Allah. Jika sekiranya Yesus itu Tuhan, maka Tuhan akan menyembah diri-Nya, suatu hal yang tidak bisa diterima oleh akal. Ringkasnya, Ricoldo tidak mengapli­kasikan pandangan sinisnya kepada Bibel. Sebaliknya, ia tetap menganggap Bibel yang sebenarnya memiliki sejumlah permasalahan mendasar, sebagai sebuah kitab suci.


6. Martin Luther (1483-1546)


Dalam kaitannya dengan Al-Qur'an, Luther melakukan dua hal. Pertama, menerjemahkan karya Ricoldo dalam bahasa Latin, Confutatio Alcorani (Bantahan Trrhadap AI­ Qur'an) ke bahasa Jerman (Verlegung des Alcoran Bruder Richardi) pada tahun 1542. Di dalam kata prngantarnya untuk terjemahan Confutatio Alcorani, Luther mengakui karya Ricoldo sudah dibaca sejak tahun 1530. Luthrr tidak percaya jika ada manusia yang mau memercayai ketololan dan ketakhyulan AI-Qur'an. Ia srlanjutnya sangat berkeinginan untuk membaca sendiri Al-Qur'an. Namun, ia baru membaca terjemahan Al-Qur'an dalam bahasa Latin pada tanggal 21 Februari 1542. 65 Setelah menyadari kalau selama ini Ricoldo benar, maka Luther menerjemahkan karya Ricoldo tersebut ke bahasa Jerman.

Kedua, Luther menulis kata pengantar untuk karya Theodore Bibliander (1504-1564), yaitu Vorrede zu Theodor Bibliandus Koranausgabe (Kata pengantar kepada Al-Qur'an Edisi Theodor Bibliander) pada tahun 1543. Bibliander adalah seorang Pastor terkemuka Jerman, pengganti Zwingli di Zu­rich. Pada awal tahun 1530-an, Bibliander minta tolong kepa­da sahabatnya, Johannes Oporin, salah seorang pemilik percetakan terkemuka di Basle, supaya menyediakan teks-teks Arab kepadanya. Hasilnya, Bibiliander memiliki teks-teks Arab, salah satunya adalah terjemahan Al-Qur'an Toledo. Ia berniat mempublikasikannya. Ketika mencetak Al-Qur'an edisi Bibliander, Oporin tidak meyadari kalau tindakannya mempublikasikan al-Quran akan mengundang masalah. Saat itu, Al-Qur'an dianggap sebagai sebuah buku berbahaya (a dangerous book). Dewan Gereja di Basle memerintah Oporin supaya tidak menyambung pekerjaannya, sehingga isu Al­ Qur'an sebagai buku yang berbahaya atau tidak, dituntaskan terlebih dahulu. Saat itu terjadi pro-kontra pendapat dalam menghadapi isu ini. Akhirnya, hanya setelah Martin Luther intervensi, maka AI-Qur'an bisa dipublikasikan. Luther mere­komendasikan kepada Dewan Gereja di Basle supaya mem­biarkan terjemahan tersebut terbit. Dalam pandangan Luther, tidak seorang Kristenpun akan hilang keimanannya karena membaca Al-Qur'an. Akhirnya, karena campur tangan Luther, Al-Qur'an yang direvisi Bibliander jadi diterbitkan. Bibliander yang semula diancam untuk dipenjarakan, akhir­nya dicabut.68 Pada tahun 1543, Luther menulis kata pengan­tar yang panjang untuk karya Bibliander tersebut ( Vorrede zu Thcodor Bibliandus Koranausgabe).


Pendapat Luther mengenai Al-Qur'an banyak diwarnai dari pemikiran Ricoldo dan Nicholas dari Kusa. Hujatan Luther kepada AI-Qur'an sangat sinis. Dalam pandangan Luther, Setan adalah pengarang terakhir Al-Qur'an. (The devil is the ultimate author of the Qur'an). Pendapat Luther berdasarkan kepada Yohannes 8 (44). Luther berpendapat bahwa setan adalah seorang pembohong dan pembunuh ( a liar and murderer) dan Al-Qur'an mengajarkan kebohongan dan pembunuhan. Luther selanjutnya menghubungkan antara ke­bohongan dan pembunuhan dengan kontrol setan kepada Muhammad. Luther menyatakan: "Jadi ketika jiwa pembo­hong mengontrol Muhammad, dan setan telah membunuh jiwa jiwa Muhammad dengan Al-Qur'an dan telah menghan­curkan keimanan orang-orang Kristen, setan harus terus me­ngambil pedang dan mulai membunuh badan-badan mereka."

Luther sangat membenci orang-orang Turki ([slam). Me­nurut Luther, Mohammed, Al-Qur'an dan orang-orang Turki semuanya adalah produksi setan. Luther mengatakan: "Na­mun sebagaimana Paus yang anti Kristus, begitu juga orang­ orang Turki yang merupakan penjelmaan setan." (But just asthe pope is the Antichrist, so the Turk is the very devil incar­nate).

Luther menyebut Tuhan orang-orang Turki adalah setan (demon) karena ketika orang-orang Turki berperang, mereka berteriak Allah! Allah! Ini sama halnya dengan tentara-tentara Paus ketika berperang berteriak Ecclesia! Ecclesia! Bagi Luther, teriakan Gereja (ecclesia) adalah dari setan. Menurut Luther, Tuhan orang-orang Turki yang sebenarnya Iebih banyak berbuat dalam peperangan dibanding orang-orang Turki sendiri. Tuhan mereka yang memberi keberanian dan trik, yang.mengarahkan pedang dan tangan, kuda dan manu­sia.

Luther menyatakan: "Muhammad menafikan bahwa Kris­tus adalah Anak Tuhan. Dia menafikan bahwa beliau (Yesus) telah wafat demi dosa-dosa kita. Dia menafikan bahwa iman kepada-Nya mengampunkan dosa serta membersihkan (dari kesalahan). Dia menafikan akan kedatangan kehidupan dan kematian-Nya. Mungkin ada kebangkitan orang yang mati, namun dia mempercayai pengadilan oleh Tuhan. Dia menafikan Ruh Kudus dan hadiah-hadiah-Nya."

Luther berpendapat AI-Qur'an mengajarkan kebohongan, pembunuhan dan tidak menghargai perkawinan. Bohong kare­na menolak kematian Yesus dan ketuhanan Yesus sebagai­mana yang diajarkan Bibel. AI-Qur'an mengajarkan bahwa hukum ditegakkan dengan pedang dan keimanan Kristiani perlu dihancurkan, dan Turki (Muslim) adalah pembunuh. Dalam pandangan Luthrr, AI-Qur’an membolehkan siapa saja untuk beristri sebanyak yang diinginkan. Menurutnya, meru­pakan kebiasaan bagi seorang laki-laki Turki untuk memiliki sepuluh atau dua puluh istri dan meninggalkan atau menjual siapa yang dia inginkan. Sehingga wanita-wanita Turki diang­gap murah dan rendah yang tidak ada harganya; mereka dibeli dan dijual seperti binatang ternak (It is customary among the Turks for one man to have ten or twenty wi ves and to desert or sell any whom he will, so that in Turkey women are held immeasuarably cheap and are despised; they are bought and sold like cattle).

Luther, yang digelari 'the father of the reformation' (Bapak Reformasi) menganggap hanya Bibel yang menjadi kitab suci. Pandangan Luther terhadap AI-Qur'an hanya mengu­langi kembali pendapat para penghujat AI-Qur’an sebelumnya.

Para Penghujat Al Quran II

. ‘Abdul Masih al-Kindi ( ± 873 )

Kalangan Kristen sering menjadikan risalah `Abdul Masih al-Kindi sebagai rujukan untuk menghujat Al-Qur'an. Risalah tersebut mulai diketahui secara luas ketika pada akhir abad ke­I 9. Anton Tien, seorang misionaris Amerika yang bertugas di Mesir, mengedit manuskrip yang memuat pemikiran al-Kindi. Tien menemukan manuskrip tersebut di Mesir dalam bahasa Arab. la juga menemukan manuskrip lain di lstanbul dalam bahasa Arab. Kedua manuskrip tersebut konon memuat pemikiran al-Kindi. Bagaimanapun, kedua manuskrip ter­sebut mengandung berbagai kesalahan, selain tidak menye­butkan pengarang dan kapan manuskrip itu ditulis.

Al-Kindi, yang diduga penganut Kristen Nestorian, ber­pendapat bahwa Muhammad bukanlah seorang Nabi. Dalam pandangannya, seorang Nabi itu akan memberitahu peristiwa­ peristiwa yang tidak diketahui oleh orang lain. Termasuk diantaranya peristiwa-peristiwa yang sudah atau yang akan berlaku. Dalam pandangannya, orang Kristen telah mengeta­hui cerita Muhammad mengenai Nuh, Ibrahim, Musa dan ‘Isa.

Cerita Muhammad mengenai `Ad, Thamud, unta dan gajah adalah cerita-cerita bodoh (idle tales).

Mengenai Al-Qur'an, al-Kindi berpendapat Sergius, se­orang Biarawan Kristen telah berkunjung ke Mekkah, ber­teman dan mempengaruhi Muhammad. Bahkan Sergius ham­pir menjadikan Muhammad menjadi pengikut Kristen Nes­torian. Itulah sebabnya mengapa Muhammad membela Nasrani. Menurut al-Kindi, setelah Muhammad wafat, `Abdullah ibn Sallam dan Ka`b, yang beragama Yahudi, yang sebelumnya pura-pura memeluk Islam, telah mengubah Al­-Qur'an. Mereka pura-pura berteman dengan `Ali, yang me­miliki teks Al-Qur'an. Sebenarnya, mereka telah mema­sukkan sejarah-sejarah Perjanjian Lama, bagian-bagian dari hukum-hukum Musa beserta inkonsistensinya ke dalam ke berbagai pelepah Al-Qur'an yang terpisah. Contohnya, tegas al-Kindi, ada di dalam Surah Al-Nahl (16), al-Naml (27) dan Surah al-`Ankabut (29).

Meneruskan hujatannya kepada Al-Qur'an, al-Kindi, tan­pa memberi bukti, menyatakan bahwa al-Hajjaj ibn Yusuf al­Thaqafi telah menghilangkan banyak ayat-ayat AI-Qur'an. Di zaman `Uthman, tegas al-Kindi, persetujuan mengenai teks yang benar tidak ada. Menurutnya lagi, Ibn Mas`ud menolak menyerahkan mushafnya. Selain itu, konon asalnya Surah al ­Nur lebih panjang dari Surah al-Baqarah. Surah al-Ahzab yang sekarang ini telah dipotong. Selain itu, pada awalnya Surah al-Bara'ah tidaklah terpisah dengan basmallah dari Surah al-Anfal. Al-Kindi juga menyebutkan bahwa dua Surah terakhir tidak masuk di dalam versi Ibn Mas’ud. Selain itu, al­ Kindi mengutip pendapat ‘Umar bahwa ayat mengenai rajm ada di dalam Al-Qur'an. Masih mengutip pendapat ‘Umar, al­ Kindi menyatakan bahwa di dalam khutbah, ‘Umar mengata­kan: "Aku tidak tahu bagaimana seseorang akan dapat menga­takan bahwa Mut`ah tidak ada di dalam Kalam Ilahi, kami sendiri telah membacanya di dalamnya, tetapi telah dikeluar­kan. Tuhan tidak akan memberi pahala bagi siapa yang telah menghilangkannya. Banyak ayat yang telah ada di dalam Al ­Qur'an tidak ada lagi." Al-Kindi juga menyebutkan bahwa da­lam pandangan Ubayy ibn Ka`b ada dua Surah lagi, yaitu al­ Qanut dan al-Witr. Selain itu, ‘Ali yang minta supaya Mut`ah dikeluarkan dari Al-Qur'an.

Al-Kindi menyimpulkan orang yang percaya Al-Qur'an berasal dari Tuhan adalah orang yang sangat tolol. Menurut al-Kindi, Muhammad dengan Al-Qur'an nya sama sekali tidak membawa mukjizat sebagaimana Nabi Musa yang membelah laut, dan Kristus yang menghidupkan orang mati serta menyembuhkan penyakit kusta.

Masih menghujat Al-Qur'an, al-Kindi menyalahkan Muhammad karena berpendapat Al-Qur'an diwahyukan da­lam bahasa Arab. Menurut al-Kindi, AI-Qur'an memuat banyak sekali kosa kata bahasa asing, seperti istabraq, sundus, abarig, namarig berasal dari bahasa Persia dan Mishkat berasal dari bahasa Ethiopia, artinya jendela.

Sebenarnya, risalah al-Kindi memiliki banyak permasa­lahan yang belum terselesaikan. Al-Biruni adalah sarjana yang pertama kali menyebutkan kedua nama yang terlibat dalam polemik tersebut. Keduanya adalah ‘Abdul Masih al ­Kindi dan Abdullah ibn Isma'il al-Hashimi. Nama sebenar­nya ‘Abdul Masih al-Kindi masih menjadi sebuah persoalan. Menurut William Muir, seorang orientalis yang menerjemah­kan tulisan al-Kindi ke bahasa Inggris dan menerbitkannya pada tahun 1882, berpendapat mungkin nama al-Kindi yang sebenarnya adalah Eusthathius al-Kindi.

Kapan karya al-Kindi ditulis, masih merupakan sebuah persoalan di kalangan orientalis. Menurut William Muir, penggagas Islamic Studies di Edinburgh, risalah al-Kindi ditulis pada tahun 215 H/830. Berbeda dengan Muir, Louis Massignon berpendapat risalah tersebut ditulis setelah tahun 300 H/912. Alasannya, pengarang risalah tersebut mengadop­si beberapa pemikiran al-Tabari (m. 310 H/923). Berbeda lagi dengan keduanya, Paul Kraus berpendapat pengarang risalah tersebut telah mengadopsi berbagai ide dari Ibn al-Rawandi (m. 298 H/9l0). Jadi, Kraus menyimpulkan, pengarang tersebut menulisnya sekitar awal abad ke-4 H/abad ke-10 M.

Selain itu, seandainyapun risalah tersebut dikarang oleh al-Kindi sendiri, maka tuduhan-tuduhan al-Kindi kepada Al ­Qur'an sama sekali tidak memiliki dasar. Sekalipun Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru telah memuat kisah-kisah menge­nai Nuh, Ibrahim, Musa dan ‘Isa, namun kisah-kisah di dalam Bibel itu berseberangan dengan Al-Qur'an, seperti masalah penyaliban Yesus sendiri. Bagi kalangan Kristiani, pada zaman al-Kindi, mengingkari penyaliban Jesus adalah sesuatu yang tak terfikirkan. Kristiani meyakini bahwa Yesus adalah Tuhan dan Yesus meninggal di tiang salib. Padahal, Al-Qur'­an secara tegas menolak penyaliban dan ketuhanan Yesus.

Selain itu, tuduhan bahwa kisah Al-Qur'an tentang kaum `Ad, Thamud, unta dan gajah, adalah cerita-cerita bodoh (idle tales) tidak berdasarkan kepada bukti yang kukuh. Memang secara akal, kisah-kisah tersebut statusnya mungkin terjadi mungkin juga tidak. Namun, disebabkan Al-Qur'an adalah kalam Ilahi, maka kisah-kisah tersebut memang merupakan suatu fakta. Justru Rasulullah saw. datang untuk meyakinkan bahwa peristiwa-peristiwa tersebut memang terjadi. Inilah salah satu peran wahyu dalam epistemologis; memberi ke­yakinan kepada akal yang ragu.

Selain itu, al-Kindi sama sekali tidak menyebutkan bukti untuk menyokong pendapatnya. Jadi, pendapat al-Kindi bah­wa Sergius mempengaruhi dan hampir menjadikan Muham­mad sebagai pengikut Kristen; `Abdullah ibn Sallam dan Ka`b, telah mengubah Al-Qur'an adalah gosip. Pendapat al­ Kindi mengenai al al-Hajjaj ibn Yusuf al-Thaqati yang telah menghilangkan ayat-ayat Al-Qur'an; lbn Mas`ud yang menolak menyerahkan mushafnya; Ubayy yang memuat dua tambahan Surah; wujudnya kosa kata asing di dalam AI­ Qur'an serta ayat-ayat hilang dari Al-Qur'an, akan dijawab secara lebih terpcrinci pada Bab III dan Bab IV.


4. Petrus Venerabilis (Peter the Venerable 1094-1156)

Pierre Maurice de Montboissier atau dikenal juga sebagai Petrus Venerabilis adalah seorang Kepala Biara Cluny di Perancis. Biara Cluny termasuk biara paling berpengaruh di Kristen Eropa pada zaman pertengahan Barat. Sekitar tahun 1141-1142, Petrus Venerabilis berkunjung ke Toledo, Spa­nyol. Di sana ia menghimpun, membiayai dan menugaskan tim penerjemah untuk menghasilkan karya berseri yang akan dijadikan landasan bagi para misionaris Kristen ketika ber­interaksi dengan kaum Muslimin. Gagasannya untuk meng­kaji Islam sudah ada di dalam benaknya sebelum berkunjung ke Toledo.

Usaha Petrus Venerabilis yang mengkaji Islam dengan terorganisir merupakan suatu bentuk Studi Islam (Islamic Studies). Usaha tersebut membuahkan hasil. Salah satunya adalah penerjemahan Al-Qur'an ke dalam bahasa Latin oleh Robert dari Ketton. la menyelesaikan terjemahan itu sekitar bulan Juni atau Juli 1 143. Terjemahan Ketton, Liber Legis Saracenorum quem Alcoran Vocant (Kitab Hukum Islam yang disebut Al-Qur'an) merupakan terjemahan pertama Al­-Qur'an ke dalam bahasa Latin. Sekalipun penyimpangan banyak sekali terjadi dalam terjemahan tersebut, namun terjemahan Ketton tetap dijadikan fondasi bagi terjemahan Al­ Qur'an ke bahasa Italia, Jerman dan Belanda. Dengan ter­jemahan tersebut, Barat untuk pertama kalinya memiliki instrumen untuk mempelajari Islam secara serius (With this hanslatiott, the West had for the first time an instrument for the serious study of Islam). Para pendeta, pastor, dan misio­naris selama 600 tahun menjadikan terjemahan Ketton sebagai sumber utama ketika merujuk kepada Al-Qur'an. Nicholas dari Cusa (1401-1464), Dionysius Carthusianus (1402/3-1471), Juan dari Torquemada (1388-1468), Juan Luis Vives (1492-1540), Martin Luther (1483-1546), Hugo Grotius (1583-1645) dan lain-lainnya, memanfaat terjemah­an Ketton ketika mengkaji Islam.

Pada akhir abad ke-17 M, tepatnya pada tahun 1698, se­orang Pendeta Italia, yang mengkaji Al-Qur'an selama 40 tahun, Ludovico Marracci (1612-1700) menerjemahkan Al ­Qur'an sekali lagi ke dalam bahasa Latin dengan judul Alcorani Textus Receptus (Teks Al-Qur'an yang Universal). Dalam karyanya, Marracci menunjukan berbagai kelemahan terjemahan Ketton. Akibatnya, terjemahan Ketton sudah mulai tidak digunakan lagi.

Motif Petrus Vencrabilis membentuk "lslamic Studies" di Spanyol adalah untuk "membaptis pemikiran kaum Muslim­in." Dalam pandangannya, kaum Muslimin perlu dikalahkan bukan saja dengan ekspedisi militer, namun pemikiran mereka juga perlu ditaklukkan. Dalam suasana Perang Salib periode kedua (1145-1150), Petrus Vencrabilis menyatakan:


"Kelihatannya aneh, dan mungkin memang aneh, aku, se­orang manusia yang sangat berbeda tempat dari kamu, berbicara dengan bahasa yang berbeda, memiliki suasana kehidupan yang terpisah dari suasana kehidup­anmu, asing dengan kebiasaanmu dan kehidupanmu, menulis dari jauh di Barat kepada manusia yang tinggal di negeri-negeri Timur dan Selatan. Dan dengan perkataan­ku, aku menyerang mereka yang aku tidak pernah melihat, orang yang mungkin aku tidak pernah lihat. Namun aku menyerangmu bukan sebagaimana sebagian dari kami (orang-orang Kristen] sering melakukan, dengan senjata, tetapi dengan kata-kata, bukan dengan kekuatan, namun dengan akal; bukan dengan kebencian, namun dengan cinta... aku mencintaimu, cinta kamu, aku menulis kepadamu, tulis kepadamu, aku mengundangmu kepada keseamatan. "

Petrus Venerabilis mengajak orang-orang Islam ke jalan keselamatan karena dalam keyakinannya tidak ada keselamat­an di luar Gereja (extra ecclesiam nulla salus). Ia menyatakan Islam adalah sekte terkutuk sekaligus berbahaya (execrable and noxious heresy), doktrin berbahaya (pestilential doctrine), ingkar (impious) dan sekte terlaknat (a damnable sect) dan Muhammad adalah orang jahat (an evil man).

Selain menugaskan para sarjana Kristen untuk menerje­mahkan teks-teks Arab yang penting, Petrus Venerabilis sendiri menulis mengenai Islam. Karyanya mengenai Islam ada dua; Summa Totius Haeresis Saracenorum (Semua Bid`ah Tertinggi Orang-Orang Islam) dan Liber contra sectam sive haeresim Saracenorum (Buku Menentang Cara Hidup atau Bid'ah orang-orang Islam). Salah satu sumber pendapatnya mengenai Islam didasarkan pada beberapa karya terjemahan. Gagasannya mengenai Al-Qur'an, misalnya, banyak dipe­ngaruhi oleh karya terjemahan yang dinisbatkan kepada al­ Kindi. Petrus dari Toledo (Petrus Toletanus), salah seorang anggota tim penerjemah, telah menerjemahkan karya al­ Kindi. Judul asalnya berbahasa Arab Risalat 'Abd allah ibn Ismail al-Hashimi ila 'Abd al-Masih ibn Isaq al-Kindi wa risalatal-Kindi ila al-Hashimi. Diterjemahkan ke bahasa Latin dengan judul Epistula Saraceni et Reseriptum Christiani (Surat Seorang Muslim dan Jawaban Seorang Kristen). Karya tersebut selesai diterjemahkan pada tahun 1141.

Mengulangi pendapat al-Kindi, Petrus Venerabilis menyatakan Al-Qur'an tidak terlepas dari peran setan. Dalam pandangannya, ketika Muhammad menyangkal Kristus adalah Tuhan atau Anak Tuhan, maka sangkalan itu merupakan rancangan setan (diabolical plan). Setan telah mempersiapkan Muhammad, orang yang paling nista, menjadi anti-Kristus. Setan telah mengirim seorang informan kepada Muhammad, yang memiliki kitab setan (diabolical scripture).

Untuk mendapatkan simpati atas usahanya dalam mem­prakarsai Islamic Studies, Petrus Venerabilis mengirim surat kepada Bernard dari Clairvaux (±1090-1153). Di dalam Epistola Petri Cluniacensis ad Bernardum Caraevallis (Surat Petrus Cluny kepada Bernard dari Clairvaux), Petrus menya­takan sekiranya apa yang dilakukannya dianggap tidak berguna, karena pemikiran bukanlah senjata untuk menga­lahkan musuh (Islam), tetap saja kerja ilmiah seperti itu akan ada manfaatnya. Jika orang-orang Islam yang sesat tidak dapat diubah, maka sarjana Kristen akan bisa menasehati orang­ orang Kristen yang lemah imannya.

Perjalanan sejarah membuktikan Petrus Venerabilis benar. Sekalipun pada zamannya, usahanya tidak mendapat banyak sambutan. Namun misi dan visinya justru menjadi kenyataan setelah ratusan tahun kematiannya. Sekarang, studi Islam di Barat telah menjadi "rujukan." Banyak sekali calon­ calon intelektual Muslim mempelajari Islam melalui orang­orang Kristen, Yahudi atau bahkan Ateis. Dengan banyaknya pemikir Muslim pada abad 20 ini yang terpengaruh Kristen, maka "penaklukan pemikiran" yang dicita-citakan oleh Petrus Venerabilis telah menjadi sebuah kenyataan.

Para Penghujat Al Quran I

MENGHUJAT AL-QUR'AN

Kalangan Yahudi-Kristen telah lama menghujat Al-­Qur'an. Hal ini bisa dimengerti karena mereka menolak jika Al-Qur'an meluruskan fondasi agama Yahudi-Kristen. Dalam kaitannya dengan agama Kristen, misalnya, Allah berfirman yang artinya: "Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata sesungguhnya Allah ialah al-Masih putera Maryam."Sesungguhnya kafirlah orang ­orang yang mengatakan bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga. "Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak menyalibnya, tetapi orang yang diserupakan dengan `Isa bagi mereka." Selain itu, Allah juga melaknat orang-orang Nasrani karena menyatakan al-Masih itu putera Allah.

Pernyataan Al-Qur'an tersebut membuat kalangan Kristi­ani marah dan geram. Oleh sebab itu, sejak awal mereka menganggap Al-Qur'an sama sekali bukan kalam Ilahi. Mereka menjadikan Bibel sebagai tolak ukur untuk menilai Al-Qur'an. Mereka menilai bila isi Al-Qur'an bertentangan dengan kandungan Bibel, maka Al-Qur'an yang salah. Sebabnya, menurut mereka, Bibel adalah God's Word, yang tidak mungkin salah. Karena Al-Qur'an berani mengkritik dengan sangat tajam kata-kata Tuhan di dalam Bibel, maka AI-Qur'an bersumber dari setan .

Berikut hujatan-hujatan dari kalangan Kristen kepada Al­ Qur'an dari abad ke-8 sampai abad ke-16 M.


1. Leo III ( 717-741 )

Salah seorang dari kalangan Kristen termasuk yang paling awal menghujat Al-Qur'an adalah Leo III, seorang Kaisar Bizantium (717-741). Konon ia berpolemik melalui surat­menyurat dengan `Umar ibn `Abdul `Aziz, yang dikenal juga dengan `Umar II, seorang Khalifah pada dinasti Umayyah yang memerintah dari tahun 99 H/717 sampai tahun 101 H/ 720. Informasi yang paling awal mengenai polemik tersebut berasal dari Theophanes (m. 818) yang mengatakan: "Dia (`Umar) juga telah mengirim sebuah risalah teologis kepada Kaisar Leo, dengan fikiran ia mungkin bisa membujuknya juga untuk menerima Islam." [He (`Umar) also sent a theological epistle to the Emperor Leo, thinking that he might persuade him also to accept Islam].5 Cedrenus (m.1100) dalam karyanya Historiarum Compendium, menyebutkan Mahbub (Agapius), seorang penulis Syiria sekaligus Pendeta di Manbij (Hicrapolis) mengulangi pendapat Theophanes. Mahbub bukan saja mengetahui isi surat `Umar yang menyerang agama Kristen dan mengajak Leo untuk masuk Islam, namun Mahbub juga mengetahui bahwa Kaisar Leo menjawab surat tersebut yang isinya membantah pendapat `Umar. Selain itu, penulis seperti Thoma Ardzruni (± m. 936), Kirakos (m. 1272) dan Vartan (m. 1272), sebagaimana terdapat dalam literatur Turki, juga menyebutkan adanya korespondensi antara `Umar II dan Leo III. Bagaimanapun, Thoma Ardzruni, Kirakos dan Vartan menggunakan informasi dari Ghevond (Leontius), seorang sejarawan Kristen yang hidup pada abad ke-8 M sebagai sumber informasi. Jadi, sebenarnya sumber yang paling awal dan yang paling lengkap memuat polemik surat­menyurat antara Leo III dan `Umar ibn `Abdul `Aziz berasal dari Ghevond yang menulis sekitar akhir abad IX atau mungkin awal abad X.

Di dalam surat yang dinisbatkan kepada Leo dan diperkirakan ditulis antara tahun 717-720, dinyatakan bahwa al­Hajjaj ibn Yusuf al-Thaqafi (41-95 H), seorang Gubernur di Irak dari tahun 75 H/694 sampai tahun 95 H/714 di bawah ke­khalifahan `Abdul Malik ibn Marwan (684-704) telah mengubah Al-Qur'an yang sebelumnya telah dikanonisasikan oleh `Uthman. Dalam kaitannya dengan al-Hajjaj, Leo menyebutkan dalam suratnya:

"Mengenai kepunyaanmu (kitabmu), kamu telah memberikan contoh-contoh yang salah, dan orang tahu, diantaranya, bahwa al-Hajjaj, kamu menyebutnya sebagai Gubernur Persia, menyuruh orang-orang untuk menghimpun buku-buku kuno, yang ia ganti dengan yang lain yang dikarangnya sendiri, rnenurut seleranya, dan yang ia propagandakan di mana-mana dalam bangsamu. Karena ia adalah jauh lebih mudah untuk menjalani tugas seperti itu diantara penduduk yang berbicara dengan bahasa yang satu. Meskipun demikian, ada beberapa karya dari Abu Turab yang lolos dari bencana tersebut, karena al-Hajjaj tidak dapat menghilangkannya sepenuhnya."

Sebenarnya, informasi mengenai terjadinya polemik su­rat-menyurat antara Leo III dan `Umar II masih sangat diragu­kan. Naskah yang paling awal memuat kisah tersebut mungkin baru ditulis sekitar akhir abad IX oleh Ghevond- sekitar 180 tahun setelah polemik itu terjadi. Oleh sebab itu, beberapa sarjana Kristen meragukan kandungan surat-menyurat ter­sebut. Hildebrand Beck, misalnya di dalam artikelnya Die Polemikergegen den Islam (Polemikus versus Islam) berpen­dapat, surat-menyurat antara Leo dan `Umar bukanlah bagian dari sejarah asli Ghevond, namun baru belakangan dimasuk­kan ke dalamnya oleh tangan lain pada akhir abad IX atau awal abad X. (The correspondence between Leo and `Umar is not part of the original history of Ghevond, but was inserted therein by some later hand at the end of the IXth or the begin­ning of the Xth century). Jean-Marie Gaudeul dalam artikel­nya yang panjang The Correspondence Between Leo and `Umar menyatakan: "Namun tidak ada dari tulisan-tulisan yang dikaji di sini benar-benar bisa ditulis oleh mereka [Leo dan `Umar]. Tulisan-tulisan tersebut dikarang belakangan, dan dinisbatkan secara fiktif kepada Leo atau Umar. Ini prak­tek yang berlaku pada waktu itu. (But none of the writings studied here can really have been written by them. They were composed later, and fictitiously ascribed to Leo or `Umar. This current practice at the time).

Seandainyapun, Leo III memang pernah menulis bahwa al-Hajjaj telah mengubah kanonisasi teks Al-Qur'an, maka pendapat itupun tidak punya landasan yang kukuh. Pendapat bahwa al-Hajjaj telah mengubah Mushaf `Uthmani kembali digemakan oleh para orientalis pada abad ke-20, sebagaimana nanti akan dibahas pada Bab III.

2. Johannes dari Damaskus ( ± 652-750 )


Sekitar 23 tahun setelah polemik antara Leo III dan `Umar II, Johannes Damascenus/ John of Damascus / Yuhanna al­Dimashqi ( dibaca: Ioannou tou Damaskhenou ) menulis dalam bahasa Yunani kuno,Peri haireseon en suntomia othen erksan­to khai pothen gegonasin). Tulisan tersebut, yang ditulis sekitar tahun 743 M, membahas mengenai sekte-sekte bid`ah. Salah satunya Islam, yang merupakan pembahasan paling terakhir dari berbagai macam sekte-sekte bid`ah.

Dalam tulisannya itu, Johannes tidak pernah menyebut orang-orang Islam sebagai Muslim. Ia menyebutnya (dibaca: Ismaelitai yang artinya orang-orang Isma`il), (dibaca: Agarenoi artinya orang-orang Agar) dan (dibaca: Sarrakhenoi yang artinya Sarah ditinggalkan). Ia menyebut Al-Qur'an sebagai graphe, artinya kitab) dan berpendapat Mamed yang artinya Muhammad bukanlah seorang Nabi. Ia menegaskan Al-Qur'an banyak memuat cerita-cerita bodoh (idle tales).

Menghujat isi Al-Qur'an, Johannes mengatakan:

"Muhammad, sebagaimana telah disebutkan, menulis banyak cerita bodoh, yang setiap satu darinya, ia lengkapi sebelumnya dengan judul. Misalnya diskursus mengenai wanita, di mana ia dengan jelas melegalisir seseorang untuk memiliki empat istri dan seribu selir jika sanggup, sebanyak yang ia mampu menjaga mereka di samping empat istri. Orang tersebut bisa menceraikan siapa saja yang ia suka, jika ia menginginkannya, dan memiliki yang lain. Muhammad membuat hukum tersebut karena kasus berikut ini: Muhammad memiliki seorang sahabat bernama Zayd. Lelaki ini memiliki istri yang cantik yang (mem­buat) Muhammad jatuh cinta. Suatu saat tatkala mereka sedang duduk bersama, Muhammad mengatakan kepadanya: "Wahai Zayd, Tuhan telah menyuruhku untuk mengambil istrimu." Dan Dia menjawab: "Engkau seorang Rasul, lakukanlah sebagaimana yang telah diperintahkan Tuhan kepadamu; ambillah istriku. "Atau agaknya, untuk menceritakan kisah dari awal, Muhammad berkata kepada Zayd: "Tuhan telah menyuruhku (untuk mengatakan kepadamu) bahwa sepatutnya kamu menceraikan istrimu'; dan Zayd menceraikannya. Beberapa hari kemudian Muhammad berkata: "Namun sekarang Tuhan telah memerintahkanku supaya aku sepatutnya mengambilnya. "Selanjutnya sete]ah ia (Muhammad) mengambilnya dan melakukan hubungan bersamanya, ia membuat hukum seperti berikut: "Siapa saja yang ingin, ia boleh menceraikan istrinya. Namun jika setelah cerai, ia ingin kembali kepadanya, maka biarlah seseorang yang lain mengawini­nya (lebih dulu). Karena tidaklah dibolehkan baginya untuk mengambil istrinya kecuali ia dikawini oleh seorang yang lain. Bahkan sekalipun seorang abang menceraikan (istrinya), maka biarlah saudaranya yang mengawini istrinya jika ia menginginkannya. " Inilah jenis dari ajaran yang ia berikan dalam diskursus ini: "Sehingga ladang yang Tuhan telah berikan kepadamu dan indahkanlah ladang tersebut: dan lakukanlah ini dan dengan cara ini "-tidak untuk mengatakan, segala hal yang memalukan sebagaimana yang ia (Muhammad) lakukan.

Selain itu, Johannes mengkritik kisah unta betina yang menjadi bukti kenabian Salih. Dalam pandangannya, kisah itu tidak bisa diterima karena Muhahmmad tidak menceritakan secara detil tentang unta Salih. Tidak ada informasi mengenai ayah, ibu dan keturunan unta, dimana unta itu dibesarkan, siapa yang memberinya susu dan siapa yang meminum susu­nya. Johannes, tanpa sama sekali membahas, menyebutkan Muhammad mengatakan bahwa Kristus meminta sebuah meja dari Tuhan.Selain itu Johannes, dengan tidak memberi contoh, berkomentar bahwa Surah al-Baqarah hanyak memuat cerita bodoh.

Sebenarnya, hujatan sinis Johannes kepada AI-Qur’an disebabkan kebenciannya kepada AI-Qur'an. Ketika menun­jukkan Muhammad berperilaku tidak senonoh karena menga­wini istn anak angkat, Johannes merujuk kepada Surah al­Ahzab 37: "Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: "Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah;' sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allahlah yang Iebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zayd telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (mencerai­kannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang-orang mukmin untuk (mengawini) istri ­istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada istrinya. Dan ketetapan Allah itu pasti terjadi."

Pemahaman Johannes terhadap ayat tersebut sangat frag­mentatif karena ia tidak melihat pra (sibaq), paska (lihaq) dan suasana (siyaq) ketika ayat tersebut diturunkan. Sebelum ayat tersebut, ayat 36 Surah al-Ahzab menyebutkan: "Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka."

Menurut Ibn 'Abbas, Mujahid, Qatadah dan Muqatil ibn Hayyan, ayat tersebut diturunkan ketika Rasulullah saw, me­lamar Zaynab binti Jahsh untuk Zayd ibn Harithah. Mula­mula Zaynab dan saudaranya yang Ielaki menolak. Mungkin penolakan Zaynab disebabkan ia memiliki status sosial yang lebih tinggi. Zaynab adalah cucu kepada 'Abdul Mutallib, seorang tokoh Qurasy terkemuka sedangkan Zayd hanyalah seorang hamba sahaya yang dimerdekakan. Namun disebab­kan Allah memerintahkan supaya seorang yang beriman menerima perintah Allah dan Rasul-Nya, maka akhimya Zaynab menerima.20 Ayat tersebut di atas diakhiri dengan: "Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata."

Jadi, kaum Muslimin wajib mengikut apa-apa yang dipe­rintahkan Allah dan Rasul-Nya. Hal ini sesuai juga dengan ayat lain yang artinya: "Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih."21 Sesuai juga dengan Hadith Rasu­lullah saw. yang bersabda: "Demi jiwaku yang berada dita­ngan-Nya, tidaklah seorang diantara kamu beriman sehingga keingina.nnya mengikuti apa-apa yang telah kuajarkan."22

Jadi, dalam pandangan Ibn `Abbas, Mujahid, Qatadah dan Muqatil ibn Hayyan, Rasulullah saw. yang memerintahkan Zaynab untuk mengawini Zayd. Rasulullah saw yang melamar Zaynab untuk Zayd. Seandainya tuduhan Johannes benar, maka Rasulullah saw tidak akan melamar Zaynab, yang masih terhitung sepupunya, untuk Zayd. Rasulullah saw. akan melamar Zaynab untuk dirinya sendiri. Sebagai seorang Rasul, tentu lamarannya akan diterima dengan senang hati oleh Zaynab. Namun, Rasulullah saw. tidak melakukan hal tersebut. Ini menunjukkan bahwa Rasulullah saw. tidak punya keinginan tersembunyi untuk mengawini Zaynab.

Selain mengabaikan ayat 36 dari Surah al-Ahzab, Johan­nes mengabaikan juga konteks ayat 37 al-Ahzab yang menun­jukkan Zayd menerima anugerah nikmat dari Allah dan Rasu­lullah saw (an `ama Allah `alayh wa an `amta `alayh). Rasu­lullah saw. memerdekakan Zayd yang sebelumnya berstatus hamba sahaya. Bukan itu saja, Rasulullah saw. bahkan meng­angkatnya sebagai seorang anak. Selain itu, Rasulullah saw. mengubah tradisi yang berlaku pada zaman Jahiliyyah. Pada zaman itu, anak angkat selalu mengganti nama ayah kandung dengan nama ayah angkat. Rasulullah saw. tetap memperta­hankan narna ayah kandung. Zayd ibn Harithah, bukan Zayd ibn Muhammad.Tujuannya, supaya seorang anak tidak melupakan nama ayah kandungnya. Selain itu, Rasulullah saw. sangat mencintai Zayd. Disebabkan kecintaannya kepada Zayd, Rasulullah saw. menggelarnya al-Hibb (sayang).Dari seluruh sahabat Rasululllah saw., hanya nama Zayd yang secara eksplisit disebutkan di dalam Al-Qur'an. Rasulullah saw. juga mengangkatnya sebagai amir dalam perang di Mu'­tah. Dengan penunjukan sebagai amir, Rasulullah saw mengu­tamakan dan mempercayai Zayd dibanding para sahabat sen­ior lain. Fakta di atas secara jelas menunjukkan bahwa Rasu­lullah saw. sangat mencintai Zayd. Rasulullah saw. sama sekali tidak akan mengeksploitasi Zayd untuk sebuah agenda yang terselubung, sebagaimana tuduhan Johannes.

Selain itu, konteks ayat 37 Surah al-Ahzab dengan jelas sekali menyatakan: "Tahanlah terus istrimu" (amsik ‘alayka zawjaka). Zayd ingin menceraikan Zaynab, namun Rasulullah saw. meminta Zayd supaya tidak melakukan itu. Zayd diminta supaya bertakwa kepada Allah (wattaqillah). Seandainya Rasulullah saw. punya kepentingan terselubung, tentunya ketika Zayd ingin menceraikan Zaynab, Rasulullah saw. akan segera membiarkan. Rasulullah tidak akan menyampaikan wahyu Allah "amsik `alayka zawjaka." Kemudian Allah ber­firman yang artinya: "Dan kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti." (wa tuklrfi fi nafsika Ma AIIahu mubdihi wa taksha al-nas wa Allah ahaqq an takhshahu). Allah memberitahu Rasulullah saw. bahwa Zaynab nanti akan menjadi istrinya. Rasulullah saw. khawatir bahwa manusia akan mencemooh tindakannya itu. Oleh sebab itu Allah berfirman supa­ya kamu (Muhammad) jangan takut kepada manusia, namun kamu hanya perlu takut kepada-Ku. Mengomentari ayat tersebut, Ibn Jarir al-Tabari meriwayatkan dari Ishaq ibn Shahin, dari Khalid, dari Da'ud, dari `Amir, dari `Aishah ra. yang me­nyatakan: "Seandainya Muhammad saw. menyembunyikan sesuatu yang diwahyukan kepadanya dari Kitab Allah, maka niscaya ia akan menyembunyikan wa tukhfi fi nafsika Ma Allahu mubdihi wa takhsha al-nas wa Allah ahaqg an takshahu. "

Ayat seterusnya menunjukkan: "Maka tatkala Zayd telah mengakhiri keperluan terhadap isterinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dcngan dia." (falamma Qada Zayd min­ha wataran zawwajnakaha). Jadi, ayat tersebut jelas menunjukkan bahwa mengawini Zaynab berasal dari perintah Allah. Bukhari meriwayatkan dari Anas bin Malik, mengatakan bah­wa Zaynab binti Jahsh bangga kepada istri-istri Nabi yang lain dengan berkata: "Keluargamu yang mengawinimu dan Allah yang mengawiniku dari atas tujuh langit." Perintah Allah un­tuk mengawini Zaynab bertujuan: "supaya tidak ada keberatan bagi orang Mukmin untuk (mengawini) istri-istri anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyclesaikan ke­pcrluannya daripada istri-istrinya." Ayat tersebut merupakan penegasan untuk membolehkan mengawini istri anak angkat hanya selepas masa `iddah sembari tetap mengharamkan me­nantu perempuan. Dan Allah kemudian berfirman yang arti­nya: "Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi." Jadi, Rasu­lullah saw. diperintahkan Allah untuk mengawini Zaynab.

Paska ayat 37 dari Surah al-Ahzab juga luput dari pem­bahasan Johannes, padahal masih sangat berkaitan dengan ayat yang sudah dibahas sebelumnya. Allah berfirman dalam ayat 37 Surah al-Ahzab yang artinya: "Tidak ada suatu keberatanpun atas Nabi tentang apa yang telah ditetapkan Allah baginya." Jadi, Allah memang menghalalkan dan memerintahkan Rasulullah saw untuk mengawini Zaynab. Allah juga berfirman yang artinya: "(Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnah-Nya pada nabi-nabi yang telah berlalu dahulu." Ini semua karena "Ketetapan Allah itu suatu kete­tapan yang pasti berlaku."

Jadi, Rasulullah saw. tidaklah memancing di air keruh, sebagaimana tuduhan sinis kalangan Yahudi dan Nasrani. Selain itu, pernikahan Rasulullah saw. dengan Zaynab tidak menyebabkan seorangpun dari istri Rasulullah saw. dan juga para sahabat yang mencemoohkan perkawinan tersebut. Tidak ada seorangpun diantara mereka yang memandang negatif. Selain itu, Zaynab yang memiliki status sosial tinggi, telah "lulus ujian" karena mengikuti dan menjalani perintah Rasulullah saw. dengan mengawini seorang bekas hamba sahaya. Hasilnya, Zaynab mendapatkan penghargaan status "umm al­mukminin' karena menikah dengan Rasulullah saw.

Johannes juga tidak tepat ketika mengkritik kisah unta betina, sebagai mukjizat Nabi Salih, hanya karena semata­mata tidak ada informasi yang detil mengenai unta tersebut. Mukjizat merupakan kehendak Allah yang bukan berada dalam ruang lingkup empiris. Keinginan Johannes supaya mukjizat tersebut diceritakan dengan detil di dalam Al-Qur'an mungkin disebabkan Bibel menceritakan berbagai kisah mukjizat dengan detil. Johannes ingin menyamakan gaya Bibel dengan Al-Qur'an. Padahal, kisah-kisah dan cerita-cerita detil seperti yang ada di dalam Bibel banyak mengan­dung berbagai kontradiksi antara satu dengan yang lain. Oleh sebab itu, Rudolph Bultmann, misalnya, seorang teolog Kristen, menyatakan bahwa kisah-kisah yang ada di dalam Bibel itu bukan takta sejarah tetapi mitos. Menurutnya, cerita­ cerita detil di dalam Bibel bukan sebuah fakta sejarah

Menjawab Tuduhan Miring tentang Ka'bah

Kalau ada seorang Muslim menyembah Ka'bah atau menjadikan Ka'bah sebagai sesembahannya, berarti Ia sudah murtad dan menjadi kafir. Di manapun, seorang Muslim harus menghadirkan Allah dalam hati sanubarinya.

Forum Arimatea menggelar suatu forum dialog antara teolog Muslim dan Kristiani di Gedung Kampus STEKPI, Kalibata, Jakarta Selatan, 19 Maret lalu. Hadir sebagai pembicara dalam orasi ilmiah dan dialog tersebut, antara lain: Habib Mohammad Rizieq Syihab, Lc, Ustadz Dr. Muslin Abdul Karim MA, dan Ustadz Solehan MC. Panitia penyelenggara mengatur tempat duduk peserta sedemikian rupa, di mana kelompok Nasrani duduk di bagian tengah, sedangkan kelompok Muslim ditempatkan pada sisi kiri dan kanan. Hal itu karena, mayoritas yang hadir kebanyakan dari kelompok Islam.

Yang menarik dari dialog tersebut adalah rasa kebersamaan kedua pemeluk agama (Islam-Kristen), di mana mereka sepakat untuk tidak mewarnai forum ini dengan sikap emosi atau sating menghujat satu sama lain. Peserta yang hadir, baik yang Muslim maupun Kristen / Katolik, sejak pagi hingga sore hari, duduk bersama, menjernihkan hati, akal dan pikiran untuk sama-sama mencari jalan kebenaran objektif, hakiki, dan sejati. Terlihat dari wajah yang hadir, antusiasme untuk saling mengkritisi pemahaman konsep ketuhanan dan ajaran kedua agama yang selama ini sering ditengarai menjadi salah satu pemicu konflik sosial di tataran grassroot penganut kedua agama.

Betapapun beberapa pertanyaan terdengar keras dilontarkan oleh beberapa peserta, baik Muslim maupun Kristen, terutama mengenai nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, suasana persaudaraan masih tetap terjaga. Melalui dialog, pembicara maupun peserta dapat menyampaikan argumentasinya, atas dasar pendapatnya sendiri maupun referensi dari sejumlah buku yang dibacanya. Inti dari dialog tersebut, adalah mengajak peserta untuk menyembah hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa, yakni Allah, yang secara jelas tercaritum di dalam kitab suci ketiga agama: Yahudi, Nasrani dan Islam, serta tidak membuat tuhan-tuhan tandingan yang memiliki kedudukan yang sama dengan kcdudukan Allah dalam kehidupan ini.

Bukankah dalam Injil, Yesus berkata: "Hukum yang terutama ialah: Dengarkanlah hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu Esa." (Injil Markus 12:29). Atau "Kasihilah Tuhan Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budi." (Matius 22:37). Sedangkan di dalam Al Quran jelas disebutkan, "Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepadaNyasegalasesuatu..." (QS Al Ikhlas : 1-2)


Ka'bah = Berhala?
Yang menarik dari dialog ini adalah rasa ingin tahu para teolog Kristen yang besar untuk bertanya atau sekedar menguji pembicara untuk menjelaskan hal-hal yang menurutnya sangat bertentangan dan tak logis menurut konsep ketuhanan umat Nasrani. Misalnya saja, mereka mempertanyakan, kenapa umat Islam menyembah Ka'bah? Bukankah menyembah Ka'bah sama dengan menyembah batu? Atau kenapa Islam disimbolkan dengan bulan sabit? Apakah ini bentuk paganisme (keberhalaan) terhadap kebendaan? Meski ruang kebebasan berpikir dan berpendapat dalam forum ini diberikan kelonggaran, namun para penanya dari umat Nasrani tetap merasa tidak enak hati. Itulah sebabnya, mereka lebih dulu mohon maaf, bila pertanyaan yang dilontarkan dapat menyinggung perasaan umat Islam yang hadir.

Beberapa pertanyaan kritis itu dijawab oleh Habib Rizieq Syihab dengan tenang. lugas, dan tentu dengan bahasayang santun. Soai pertanyaan, kenapa Ka'bah yang dibuat dari batu dijadikan kiblat kaum Muslim" sehingga muncul tuduhan seolah-olah umat Islam menyembah batu? HabifrRizieq menjelaskan, bahwa umat Islam, kapan dan di mana pun berada, terutama saat munajat kepada Allah, makaselama hati mereka ikhlas untuk mencari Allah, tentu mereka akan mendapatkan Allah. Yang jelas, Allah tidak pernah memerintahkan kepada umat Islam ujituk menyembah Ka'bah.

"Sekali lagi, Ka'bah yang terbuat dari batu satna sekali tidak disembah oleh umat Islam. Karena itu, kalau ada seorang Muslim menyembah Ka'bah dan menjadikan Ka'bah sebagai sesembahannya, demi Allah, si Muslim tadi sudah murtad, kafir, keluar dari agamanya (Islam). Karenanya sebagai Muslim, ia harus menghadirkan Allah dalam hati sanubarinya. Jadi, sekalipun menghadap Ka'bah, dia sesungguhnya hanya menyembah Allah semata, bukan kepada Ka'bah yang terbuat dari batu," jelas Habib.

Tapi kenapa harus menghadap Ka'bah? Jawabnya sekali lagi, "karena Allah yang memerintahkan umat Islam untuk menghadap ke Ka'bah, Perludicatat, sebelum umatlslam menghadap ke Ka'bah, tidak kurang dari 16 bulan, umat Islam menghadap ke Al Baitul Maqdis, yaitu menghadap ke Masjidil Aqsa, yang dipimpin langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Karena perintah Allah untuk menghadap Baitul Maqdis, umat Islam pun menghadap ke Baitul Maqdis. Tapi 16 bulan kemudian, umat Islam diperintahkan oleh Allah untuk berpindah arah, menghadap ke Ka'bah, Kenapa tidak ke tempat lainnya?

"Nah, inilah yang perlu diketahui," kata Habib Rizieq, "bahwa di dalam sejarah umat manusia dan para nabi, Ka'bah yang ada saat ini dan yang disaksikan oleh umat manusia seluruh dunia, tidak lain adalah satu tempat yang dulu dibangun oleh Bapak para nabi, seorang manusia yang begitu muliadan dihormati oleh pelbagai umat beragama. Beliau adala'h Khaliluilah Ibrahim a.s. Nabi Ibrahim membangun Ka'bah, karena memang diperintahkan oleh Allah. Lalu, Ka'bah dilestarikan oleh putranya Ismail a.s hingga ke zaman Nabi Muhammad SAW, Pada saat Nabi Ibrahim, Ka'bah merupakan suatu tempat yang suci, bersih dari kemusyrikan."

"Begitu roda sejarah berputar," lanjut Habib Rizieq, "kemudian muncullah orang yang menyimpangkan ajaran Nabi Ibrahim yang hanif. Akhirnya mereka meletakkan berhala-berhala di sekitar Ka'bah. SampSi tiba masanya.Jahirlah Muhammad SAW sebagai keturunan dari Ismail as, untuk mengemban tugas dari Allah: membersihkan Ka'bah dari segala berhala dan kemusyrikan. Apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW membawa hasil yang menggembirakan, di mana seluruh berhala, baikyang ada di dalam Ka'bah maupun di luar Ka'bah, bahkan yang ada di seluruh kota suci Makkah, berhasil dihancurkan. Sampai kemudian, Ka'bah kembali pada kesuciannya dari kemusyrikan, sebagaimana permulaan Ka'bah dibangun oleh Nabi Ibrahim a.s."

"Yang ingin saya tekankan, kenapa harus Ka'bah yang dipilih? Karena Ka'bah memiliki nilai historis yang luar biasa, yakni nilai historis seorang Bapak para Nabi, Ibrahim a.s yang diakui kenabiannya, kerasulannya, keutamaannya, dan keistimewaanya, baik oleh umat Yahudi maupun umat Nasrani, terlebih oleh umat Islam itu sendiri. Jadi, kenapa Ka'bah yang dipilih. Itu tak lain, karena keta'ziman wa taqriman, yaitu sebagai penghormatan yang diberikan oleh Allah SWT, terhadap hasil kerja Nabi Ibrahim dengan kedua tangan sucinya, juga dari hasil kerja Nabi Ismail yang menjaga dan melestarikan Ka'bah. Dan Allah menginginkan agar Ka'bah tetap suci, dan tetap bersih dari kemusyrikan sampai hari kiamat nanti."

Jawaban tak kalah penting tentang kenapa umat Islam diperintahkan untuk menghadap Ka'bah? Menurut Ketua Front Pembela Islam ini, "Itu, agar umat Islam setiap harinya, dan setiap detik hidupnya terus memperhatikan kelestarian Ka'bah. Tegasnya, segala waktunya, tenaga dan kemampuannya dicurahkan untuk menjaga Ka'bah, sehingga tidak lagi dikotori, dan dicampuri oleh kebatilan dan kemusyrikan. Alhamdulillah 15 abad berlalu, dari zaman Nabi Muhammad SAW, sampai saat ini, tak satu pun tangan kotor yang mengisi Ka'bah dan kota Makkah dengan berhala."

Andai Ka'bah bukan menjadi Kiblat umat Islam, apa yang terjadi? Bisa Jadi umat Islam akan kurang pengorbanan dan perhatiannya terhadap Ka'bah. "Saya bisa buktikan, dulu saat Baitul Maqdis menjadi kiblat umat Islam, maka keberadaannya selalu diperhatikan, dijaga dan dipelihara. Tapi manakala Baitul Maqdis, sudah tidak menjadi kiblat umat Islam, kenyataaan yang terjadi, perhatian umat Islam terhadap Baitul Maqdis sudah mulai berkurang. Hingga Baitul Maqdis dikuasai oleh orang lain, orang Islam sepertinya tidak punya perhatian dalam menyatukan potensi dan kekuatannya untuk membebaskan Baitul Maqdis dari intimidasi dan terror yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam,"papar Habib.


Bulan Sabit = Paganisme?
Salah satu hikmah yang bisa dipetik, kenapa umat Islam menyembah Ka'bah adalah adanya sarana edukasi luar biasa dari Allah, di mana umat Islam diajarkan untuk menyatukan visi dan misi, serta langkah perjuangan untuk menegakkan kalimat Allah setiap saat. Dalam langkah itulah, ada satu tujuan yang sama, yakni: mencari keridhaan Allah semata. Ibadah haji yang dilakukan umat Islam dengan mengelilingi Ka'bah, bukan dimaksudkan untuk menyembah Ka'bah, tapi sebagai isyarat kepada hamba-Nya, bahwa apa pun suku dan bangsanya, kedudukan dan jabatannya, umat Islam dididik untuk rela menanggalkan pakaian dan perbedaan di antara mereka, juga menanggalkan pertikaian dan permusuhan di antara sesamanya. Intinya, mereka menuju titikyang sama, yakni keridhaan Allah. Maka tidak pernah ada ritual dalam Islam yang mengajarkan umatnya untuk menyembah Kab'ah.

Adapun yang berkaitan dengan bulan Sabit, Islam seolah mengelu-elukan bulan, dan terkontaminasi dengan faham mereka yang menyembah bulan. Habib Rizieq menjelaskan lebih jauh. Pada dasarnya Islam mengajarkan umatnya utuk memuliakan seluruh makhluk ciptaan Allah, apakah matahari, bulan, bumi ataupun bintang. Jadi tidak ada yang mewajibkan umat Islam menggunakan lambang berbentuk bulan. "Buktinya, anda bisa lihat sendiri, salah satu organisasi terbesar di Indonesia, seperti Muhammdiyah lambangnya tidak menggunakan bulan, tapi matahari. Begitu juga identitas FPl yang saya pimpin, tidak menggunakan bulan, tapi bintang dan tasbih. NU pun demikian, yang dipakarbukan bulan, tapi bumi dan bintang sembilan."

Jadi tidak ada dalil yang mengkhususkan bahwa umat Islam selalu identik dengan bulan. Artinya, kalau ada masjid tanpa ada sentuhan bulan dan bintang pun tetap berfungsi sebagai masjid, "Islam sendiri, tidak terpaku dengan lambang-lambang ataupun simbol-simbol. Kalaupun diperlukan, itu hanya sebatas identitas diri, bukan tujuan untuk mengkultus, menyembah, apalagi sampai mengkontaminasi dengan pemikiran-pemikiran dan peng ajaran-pengajaran paganisme (keberhalaan)."

"Nah, kalau saja ada umat Islam menyembah bulan, demi Allah orang itu sudah mempersekutukan Allah dengan bulan. Itu artinya, orang itu sudah murtad, kafir dan keluar dari Islam," tandas Habib tegas.

PEDOMAN MANASIK HAJI

Makna Haji
Kata "haji" berasal dari "hajja-yahijju-hijjun" (kata benda) dan "hajja-yahujju-hajju" (kata sifat). Namun kata ini juga bisa berbentuk "hajja-yahujju-hujjatun", yang memiliki makna lain.
Hajja yang menghasilkan kata "hijjun" maupun "hajjun" inilah yang diartikan sebagaiu ibadah haji, atau perjalanan yang disengaja. Sedangkan hajja yang menghasilkan "hujjatun" bermakna "alasan, tanda atau alamat".

Definisi Haji
Secara syar'I, haji berarti "melakukan perjalanan dengan disengaja ke tempat-tempat suci dengan amalan-amalan tertentu dengan niat beribadah kepada Allah SWT".
Sedangkan defenisi lain, sesuai makna kedua dari haji, adalah "melaksanakan rukun Islam yang kelima sebagai alamat penyempurnaan keislaman seorang Muslim".

Hukum dan Kedudukan Haji
Sepakat para ulama dan seluruh ummat bahwa haji merupakan "kewajiban dan fardhu 'ain" atas semua Muslim, pria maupun wanita, yang telah memenuhi persyaratannya, sekali dalam seumur.

Sedangkan kedudukan haji dalam Islam adalah Rukun Islam yang kelima.
Syarat-Syarat Kewajiban Haji
•Islam.
•Berakal.
•Baligh.
•Merdeka.
•Mampu (istitha'ah)
•Muhrim (bagi wanita, menurut Imam Ahmad)

Macam-Macam Pelaksanaan Haji
•Ifrad: Yaitu melakukan niat haji semata (tanpa umrah). Tanpa DAM
•Qiran: Melakukan niat haji dan Umrah sekaligus. Dam diharuskan
•Tamattu': Berniat umrah pada bulan-bulan haji, lalu pada tgl 8 Dzulhijjah melakukan niat haji. DAM diharuskan, atau berpuasa 3 hari di tanah suci dan 4 hari jika telah kembali ke negara asal.

Rukun-Rukun Haji (jika ditinggalkan, haji menjadi batal)
- Ihram
- Wukuf di Arafah
- Thawaf Ifadhah
- Sa'I
- Tahallul
- Berurut (Syafi'I)

Wajib-wajib Haji (jika ditinggalkan, wajib memotong DAM)
- Berihram dari Miqat
- Mengucapkan Talbiyah (minimal sekali)
- Memakai pakaian khusus (pria: 2 potong kain tak berjahit. Wanita pakaian Muslimah)
- Berada di Arafah hingga terbenam matahari
- Mabit di Muzdalifah (minimal lewat ½ malam)
- Melempar Jumrah (hari pertama hanya Aqabah. Disusul 2-3 hari melempar seluruh Jumrah)
- Mabit di Mina (2-3 malam)
- Tawaf Wada'
Penjelasan Rukun-Rukun Haji

RUKUN PERTAMA: IHRAM
Yaitu melakukan ritual "niat" haji atau umrah dan/atau haji sekaligus dari Miqat yang telah ditentukan dengan bacaan yang telah ditentukan karena Allah ta'aala. Niat haji dilakukan dengan mengucapkan bacaan berikut:
(Labbaeka Allahumma hajjan wa 'umratan) - bagi yang berhaji qiran.
(Labbaeka Allahumma hajjan) - bagi yang berhaji Ifrad
(Labbaeka Allahumma 'umratan) - bagi yang berumrah/berhaji tamattu'

Wajib-wajib Ihram:
•Melakukannya di Miqat atau sebelumnya. Ada lima miqat yang telah ditentukan. Bagi kita, tergantung arah kedatangan pesawatnya.
•Membaca Talbiyah: (Labbaeka Allahumma Labbaek. Labbaeka laa syariika laka labbaek. Innal hamda, wanni'mata laka wal mulk, laa syariika lak).
•Memakai pakaian tidak berjahit (pria) dan Muslimah (wanita)
•Menjaga larangan-larangannya (lihat larangan Ihram).

Sunnah-Sunnah Ihram:
•Mandi / Wudhu
•Mencukur/memotong (kuku, kumis, bulu ketiak, kemaluan)
•Berwangian sebelum membaca niat (di badan)
•Shalat sunnah 2 raka'at
•Memperbanyak "talbiyah"

Larangan-Larangan Ihram (ada ketentuan dendanya):
•Mencabut rambut.
•Menggunting kuku.
•Memakai wangi-wangian.
•Membunuh hewan buruan.
•Mencabut pepohonan di tanah suci
•Mengenakan pakaian berjahit (bagi laki-laki).
•Menutupi kepala dengan sesuatu yang menempel (bagi pria)
•Memakai tutup muka dan kaos tangan (bagi wanita)
•Menutupi mata kaki (bagi pria)
•Melangsungkan pernikahan, menikah atau menikahkan.
•Berhubungan suami isteri.
•Bercumbu (bermesraan) dengan syahwat.
•Keluarnya airmani karena sengaja.

Sanksi pelanggaran larangan Ihram:
•Ia melakukannya tanpa udzur (alasan), maka ia berdosa dan wajib membayar fidyah (tebusan).
•Ia melakukannya untuk suatu keperluan, seperti memotong rambut karena sakit. Perbuatannya ter-sebut dibolehkan, tetapi ia wajib membayar fidyah.
•Ia melakukannya dalam keadaan tidur, lupa, tidak tahu atau dipaksa. Dalam keadaan seperti itu ia tidak berdosa dan tidak wajib membayar fidyah.
Jika yang dilanggar itu berupa mencabut rambut, menggunting kuku, memakai wangi-wangian, bercumbu karena syahwat, laki-laki mengenakan kain yang berjahit atau menutupi kepalanya, atau wanita memakai tutup muka (cadar) atau kaos tangan maka fidyah-nya antara tiga, boleh memilih salah satu daripadanya:

•Menyembelih kambing (untuk dibagikan kepada orang-orang fakir miskin dan ia tidak boleh memakan sesuatu pun daripadanya).
•Memberi makan enam orang miskin, masing-masing setengah sha' makanan. (setengah sha' lebih kurang sama dengan 1,25 kg.).
•Berpuasa selama tiga hari di tanah suci dan 7 hari jika kembali ke negara asal.
•Jika yang dilakukan adalah larangan-larangan berikut
•Melamar atau melangsungkan pernikahan, tidak ada ketetapan. Namun ada yang berpendapat dengan memotong kambing.
•Membunuh binatang buruan (darat) dengan memotong hewan yang dibunuhnya (kambing dengan kambing)
•Bersetubuh (dan ia adalah larangan yang paling besar). Jika ia melakukannya secara sengaja sebelum tahallul pertama, hajinya batal, menyembelih onta serta wajib melakukannya kembali pada tahun berikutnya. Jika dilakukan setelah tahallul pertama, maka dendanya adalah memotong kambing (jumhur ulama).

RUKUN KEDUA: WUKUF DI ARAFAH
Wukuf berarti "berhenti". Sedangkan dalam pengertian Syaria'h: "Tinggal di padang Arafah sejak tergelincir matahari pada tgl 9 dzulhijjah dengan niat ibadah karena Allah".

Arafah adalah nama sebuah padang, sekitar 8 mil dari kota Makkah. Padang ini dinamai "arafah" berarti "mengenal", karena riwayat menyebutkan bahwa di padang inilah Adam dan Hawa kembali saling bertemu dan mengenal setelah masing-masing diturunkan ke bumi pada tempat yang berjauhan.

Dengan demikian, wukuf di Arafah dapat berarti berhenti sejenak untuk mengenal kembali. Sebagian ahli hikmah mengatakan bahwa pengertian ini mengandung makna pentingnya bagi manusia untuk sejenak berhenti (introspeksi) dalam rangka melakukan pengenalan (pada dirinya sendiri dan juga lingkungan sekitarnya). Tanpa mengenal dirinya sendiri, manusia mustahil untuk mengenal Penciptanya secara benar. Tanpa mengenal Rabb-nya, manusia akan mustahil mampu untuk menyikapi kehidupannya secara rasional.

Wukuf di Arafah merupakan rukun haji yang paling utama. Rasulullah bersabda: "Alhajju 'arafah" (haji itu adalah Arafah". Sehingga barangsiapa yang tidak sempat melakukan wukuf, walau telah melakukan semua rukun yang lain, hajinya dianggap tidak ada.

Wajib Wukuf:
1.Dilakukan di dalam daerah Arafah (Kalau sempat keluar walau sejengkal sebelum terbenam, diwajibkan memotong)
2.Dilakukan hingga terbenam matahari (kalau mengakhirinya sebelum terbenam, wajib memotong).

Sunnah-Sunnah Wukuf:
1.Melakukan shalat Zhuhur dan Asar (jama' qashar)
2.Mendengarkan Khutbah Arafah
3.Memperbanyak dzikir, doa atau baca Al Qur'an. Doa terafdhal adalah: "Laa ilaaha illallah wahdahu laa syraiika lah, lahul Mulku walahul hamdu yuhyii wa yumiit wahuwa 'alaa kulli syaein Qadiir".
Masuk daerah Arafah sebelum zhuhur (setelah Zhuhur masih sah, tapi kehilangan sunnahnya).

RUKUN KETIGA: THAWAF:
Thawaf berarti "mengelilingi". Dalam pengertian syari'ah, thawaf difahami sebagai mengelilingi Ka'bah selama tujuh kali dengan niat ibadah karena Allah Ta'aala.

Macam-Macam Thawaf:
Ada 4 macam thawaf:
1.Thawaf Qudum, yaitu thawaf selamat datang. Thawaf ini hanya berlaku bagi mereka yang melakukan haji Ifrad.
2.Thawaf Ifadhah, yaitu thawaf rukun (haji / umrah).
3.Thawaf Sunnah, yaitu thawaf-thawaf yang dilakukan kapan saja bilamana ada peluang.
4.Thawaf Wada', yaitu thawaf selamat tinggal, yang dilakukan jika seorang haji akan meninggalkan tanah haram.

Syarat-syarat Thawaf:
1.Wudhu
2.Menutup aurat
3.Di luar Ka'bah
4.Di dalam masjid al Haram
5.Ka'bah di sebelah kiri
6.Sempurna tujuh keliling
7.Dimulai dan berakhir di sudut al hajar al aswad

Sunnah-Sunnah Thawaf:
1.Mencium hajar al Aswad (jika tidak memungkinkan, dengan mengacungkan tangan dan menciumnya) sambil membaca: "Bismillah Allahu Akbar, abda' bimaa badaaLLAHU wa Rasuluhu bihi"
2.Membaca doa: "Allahumma imaanan bika watishdiikan bikitaabika wattibaa'an lisunnati nabiyyika Muhammadin Sallallahu 'alaihi wasallam"
3.Pada 3 putaran pertama, bagi laki-laki melakukan harwalah (berlari-lari kecil)
4.Idhtiba' (menggantungkan kain atas di bawah ketiak)
5.Melambaikan tangan ke Rukun Yamani (tanpa mencium)
6.Membaca "Rabbana Aatina fidddunya hasanah wa fil Akhirah hasanah waqinaa 'adzaabannar" antara sudut keempat dan pertama (yamani-hajar al aswad)
7.Memperbanyak doa, dzikir atau bacaan al Qur'an (sesuai kemampuan dan tanpa ikatan dengan doa puataran pertama, kedua, dst.)
8.Shalat di belakang "Maqam Ibrahim" dengan membaca: pada raka'at pertama alfaatihah dan Al Kaafirun dan pada raka'at kedua al faatihah dan Al Ikhlas
9.Berdoa di depan "Multazam" (sesuai hajat masing-masing).
10.Meminum air zamzam (turun menuju tempat sumur zam zam).

RUKUN KEEMPAT: SA'I
Sa'I berarti "berusaha keras". Secara syar'I diartikan: "Berkeliling antara bukit Shafa dan Marwa selama tujuh kali dengan niat ibadah karena Allah ta'ala".

Syarat-Syarat Sa'i:
1.Wudhu (sebagian tidak melihatnya keharusan)
2.Tujuh keliling
3.Dimulai dari Shafa dan berakhir di Marwa
4.Arah yang benar

Sunnah-Sunnah Sa'i:
1.Saat memulai dengan menghadap Ka'bah, melambaikan tangan sambil membaca: "Bismillah abda' bimaa badaaLLAHU Wa Rasuluhu bihi"
2.Mulai berjalan sambil membaca: "Innas Shafa wal Marwata min Sya'aairiLLAH. Famanhajjal baeta awi'tamara falaa junaaha 'alaehi an yatthawwafa bihimaa. Famantathawwa'a khaeran fainnaLLAH syaakirun 'aliim". (dibaca setiap mendekati Shafa atau Marwa)
3.Berlari-lari di antara dua lampu pijar (bagi pria)
4.Memperbanyak doa, dzikir atau bacaan Al Qur'an
5.Mengakhiri dengan berdoa menghadap Ka'bah

RUKUN KELIMA: TAHALLUL
Pengertian "Tahallul" adalah menghalalkan kembali apa-apa yang tadinya dilarang ketika masih dalam keadaan ihram. Tahallul ada dua macam; tahallul pertama dan tahallul kedua.

Tahallul pertama adalah melakukan pemotongan rambut baik secara keseluruhan atau hanya sebagianm walau hanya sepanjang 2 inci oleh Syafi'I, setelah melakukan dua rukun ditambah satu wajib haji. Jadi setelah melakukan ihram (rukun 1) lalu wukuf (rukun 2), dilanjutkan dengan melempar Jamrah Aqabah, sesorang haji telah diperbolehkan untuk melakukan tahallul pertama. Orang yang telah melakukan tahallul I, telah dapat melakukan larangan-larangan ihram, kecuali hubungan suami isteri (jima').

Tahallul kedua adalah jika semua rangkaian rukun haji telah dilakukan, termasuk thawaf ifadhah dan Sa'I haji. Tahallul kedua tidak dilakukan pemotongan, melainkan jatuh dengan sendirinya jika kedua hal di atas telah dilakukan. Setelah tahallul kedua jatuh, semua larangan ihram boleh dilakukan kembali, termasuk hubungan suami isteri.

Amalan-Amalan Mina.
Sebagaimana disebutkan terdahulu, amalan-amalan Mina termasuk dalam kategori wajib haji. Jadi melempar Jumrah Aqabah pada hari I, dilanjutkan dengan melempar ketiga jamarat pada hari kedua dan ketiga (nafar Awal) atau pada hari ketiga (nafar tsani), dan juga melakukan mabit pada malam-malam selama malam pelemparan tersebut, hukumnya adalah wajib. Yaitu jika tidak dilaksanakan maka diharuskan memotong atau membayar DAM.

a. Melempar Jumrah Aqabah (10 Dzulhijjah pagi)
•Hanya dari Satu arah (menghadap Makkah)
•Setiap lemparan (7 lemparan) dengan membaca "Bismillah-Allahu Akbar".
•Setelah melempar berdoa menghadap Ka'bah (doa bebas).

b. Melempar 3 Jumrah: Ula, Wustha, Aqabah (11 dan 12 Dzulhijjah).
•Dimulai dari Ula lalu Wustha dan diakhiri di Aqabah
•Setiap lemparan membaca bacaan di atas
•Setelah melempar ketiganya berdoa menghadap Makkah

c. Mabit di Mina (tgl 10 malam dan tgl 11 malam Dzulhijjah)
•Selama mabit memperbanyak dzikir dan doa
•Mabit artinya berada pada tempat tersebut pada malam hari. Minimal sebelum midnight hingga setelah tengah malam.

Catatan: Ada dua macam pelemparan dan Mabit di Mina. Pertama: Nafar Awal, yaitu melempar hanya dua hari dan mabit hanya dua malam. Bagi yang mengambil nafar awal, harus meninggalkan Mina sebelum matahari terbenam pada tgl 12 Dzulhijjah. Kedua: Nafar Tsani, yaitu menambah semalam lagi di Mina pada tgl 12 Dzulhijjah malam, dan esoknya melempar kembali tiga Jumrah.

THAWAF WADA'
Tawaf Wada' artinya thawaf "Selamat tinggal" karena seseorang akan meninggalkan tanah haram menuju kembali ke tempat tinggal aslinya dan dianggap sebagai bagian dari Wajib Haji. Cara melakukannya sama dengan thawaf lain, dengan catatan tidak boleh lagi melakukan kegiatan, kecuali dharurat seperti makan karena lapar, setelahnya.

Haji dan Ziarah Madinah
Ada semacam asumsi yang berkembang bahwa ziarah ke Madinah dengan shalat arba'iin (shalat 40 kali waktu tanpa masbuq) di masjid Nabawi menjadi penentu afdhal tidaknya haji seseorang. Padahal, sebenarnya hubungan antara haji dan ziarah ke masjid Nabawi di Madinah adalah dua entity ibadah yang terpisah. Haji adalah wajib dan menjadi rukun kelima Islam, sementara ziarah sekedar sunnah yang dianjurkan oleh Rasululah SAW. Untuk itu, sebenarnya kedua-duanya tidak ada hubungan serta tidak saling menanmbah atau mengurangi bobot ibadahnya.
(Allahumma ij'alhu hajjan mabruuran wa sa'yan masykuuran wa dzanban maghfuuran wa tijaaratan lan tabuur) Amin!

Selasa, 21 Desember 2010

Riwayat Hidup Muhammad Quraish Shihab

Nama lengkapnya adalah Muhammad Quraish Shihab. Ia lahir tanggal 16 Februari 1944 di Rapang, Sulawesi Selatan.Ia berasal dari keluarga keturunan Arab yang terpelajar. Ayahnya, Prof. Abdurrahman Shihab adalah seorang ulama dan guru besar dalam bidang tafsir. Abdurrahman Shihab dipandang sebagai salah seorang ulama, pengusaha, dan politikus yang memiliki reputasi baik di kalangan masyarakat Sulawesi Selatan. Kontribusinya dalam bidang pendidikan terbukti dari usahanya membina dua perguruan tinggi di Ujungpandang, yaitu Universitas Muslim Indonesia (UMI), sebuah perguruan tinggi swasta terbesar di kawasan Indonesia bagian timur, dan IAIN Alauddin Ujungpandang. Ia juga tercatat sebagai rektor pada kedua perguruan tinggi tersebut: UMI 1959 – 1965 dan IAIN 1972 – 1977.

Sebagai seorang yang berpikiran progresif, Abdurrahman percaya bahwa pendidikan adalah merupakan agen perubahan. Sikap dan pandangannya yang demikian maju itu dapat dilihat dari latar belakang pendidikannya, yaitu Jami’atul Khair, sebuah lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia. Murid-murid yang belajar di lembaga ini diajari tentang gagasan-gagasan pembaruan gerakan dan pemikiran Islam. Hal ini terjadi karena lembaga ini memiliki hubungan yang erat dengan sumber-sumber pembaruan di Timur Tengah seperti Hadramaut, Haramaian dan Mesir. Banyak guru-guru yang di¬datangkarn ke lembaga tersebut, di antaranya Syaikh Ahmad Soorkati yang berasal dari Sudan, Afrika. Sebagai putra dari seorang guru besar, Quraish Shihab mendapatkan motivasi awal dan benih kecintaan terhadap bidang studi tafsir dari ayahnya yang sering mengajak anak-anaknya duduk bersama setelah magrib. Pada saat-saat seperti inilah sang ayah menyampaikan nasihatnya yang kebanyakan berupa ayat-ayat al-Qur'an. Quraish kecil telah menjalani pergumulan dan kecintaan terhadap al-Qur’an sejak umur 6-7 tahun. Ia harus mengikuti pengajian al-Qur’an yang diadakan oleh ayahnya sendiri. Selain menyuruh membaca al-Qur’an, ayahnya juga menguraikan secara sepintas kisah-kisah dalam al-Qur’an. Di sinilah, benih-benih kecintaannya kepada al-Qur’an mulai tumbuh.

Pendidikan formalnya di Makassar dimulai dari sekolah dasar sampai kelas 2 SMP. Pada tahun 1956, ia di kirim ke kota Malang untuk “nyantri” di Pondok Pesantren Darul Hadis al-Faqihiyah. Karena ketekunannya belajar di pesantren, 2 tahun berikutnya ia sudah mahir berbahasa arab. Melihat bakat bahasa arab yg dimilikinya, dan ketekunannya untuk mendalami studi keislamannya, Quraish beserta adiknya Alwi Shihab dikirim oleh ayahnya ke al-Azhar Cairo melalui beasiswa dari Propinsi Sulawesi, pada tahun 1958 dan diterima di kelas dua I'dadiyah Al Azhar (setingkat SMP/Tsanawiyah di Indonesia) sampai menyelasaikan tsanawiyah Al Azhar. Setelah itu, ia melanjutkan studinya ke Universitas al-Azhar pada Fakultas Ushuluddin, Jurusan Tafsir dan Hadits. Pada tahun 1967 ia meraih gelar LC. Dua tahun kemudian (1969), Quraish Shihab berhasil meraih gelar M.A. pada jurusan yang sama dengan tesis berjudul “al-I’jaz at-Tasryri’i al-Qur'an al-Karim (kemukjizatan al-Qur'an al-Karim dari Segi Hukum)”. Pada tahun 1973 ia dipanggil pulang ke Makassar oleh ayahnya yang ketika itu menjabat rektor, untuk membantu mengelola pendidikan di IAIN Alauddin. Ia menjadi wakil rektor bidang akademis dan kemahasiswaan sampai tahun 1980. Di samping mendududki jabatan resmi itu, ia juga sering mewakili ayahnya yang uzur karena usia dalam menjalankan tugas-tugas pokok tertentu. Berturut-turut setelah itu, Quraish Shihab diserahi berbagai jabatan, seperti koordinator Perguruan Tinggi Swasta Wilayah VII Indonesia bagian timur, pembantu pimpinan kepolisian Indonesia Timur dalam bidang pembinaan mental, dan sederetan jabatan lainnya di luar kampus. Di celah-celah kesibukannya ia masih sempat merampungkan beberapa tugas penelitian, antara lain Penerapan Kerukunan Hidup Beragama di Indonesia (1975) dan Masalah Wakaf Sulawesi Selatan (1978).

Untuk mewujudkan cita-citanya, ia mendalami studi tafsir, pada 1980 Quraish Shihab kembali menuntut ilmu ke almamaternya, al-Azhar Cairo, mengambil spesialisasi dalam studi tafsir al-Qur'an. Ia hanya memerlukan waktu dua tahun untuk meraih gelar doktor dalam bidang ini. Disertasinya yang berjudul “Nazm ad-Durar li al-Biqa’i Tahqiq wa Dirasah (Suatu Kajian dan analisa terhadap keotentikan Kitab Nazm ad-Durar karya al-Biqa’i)” berhasil dipertahankannya dengan predikat dengan predikat penghargaan Mumtaz Ma’a Martabah asy-Syaraf al-Ula (summa cum laude).

Pendidikan Tingginya yang kebanyakan ditempuh di Timur Tengah, Al-Azhar, Cairo ini, oleh Howard M. Federspiel dianggap sebagai seorang yang unik bagi Indonesia pada saat di mana sebagian pendidikan pada tingkat itu diselesaikan di Barat. Mengenai hal ini ia mengatakan sebagai berikut: "Ketika meneliti bio¬grafinya, saya menemukan bahwa ia berasal dari Sulawesi Selatan, terdidik di pesantren, dan menerima pendidikan ting¬ginya di Mesir pada Universitas Al-Azhar, di mana ia mene¬rima gelar M.A dan Ph.D-nya. Ini menjadikan ia terdidik lebih baik dibandingkan dengan hampir semua pengarang lainnya yang terdapat dalam Popular Indonesian Literature of the Quran, dan lebih dari itu, tingkat pendidikan tingginya di Timur Tengah seperti itu menjadikan ia unik bagi Indonesia pada saat di mana sebagian pendidikan pada tingkat itu diselesaikan di Barat. Dia juga mempunyai karier mengajar yang penting di IAIN Makassar dan Jakarta dan kini, bahkan, ia menjabat sebagai rektor di IAIN Jakarta. Ini merupakan karier yang sangat menonjol".

Tahun 1984 adalah babak baru tahap kedua bagi Quraish Shihab untuk melanjutkan kariernya. Untuk itu ia pindah tugas dari IAIN Makassar ke Fakultas Ushuluddin di IAIN Jakarta. Di sini ia aktif mengajar bidang Tafsir dan Ulum Al-Quran di Program S1, S2 dan S3 sampai tahun 1998. Di samping melaksanakan tugas pokoknya sebagai dosen, ia juga dipercaya menduduki jabatan sebagai Rektor IAIN Jakarta selama dua periode (1992-1996 dan 1997-1998). Setelah itu ia dipercaya menduduki jabatan sebagai Menteri Agama selama kurang lebih dua bulan di awal tahun 1998, hingga kemudian dia diangkat sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk negara Republik Arab Mesir merangkap negara Republik Djibouti berkedudukan di Kairo.

Kehadiran Quraish Shihab di Ibukota Jakarta telah memberikan suasana baru dan disambut hangat oleh masyarakat. Hal ini terbukti dengan adanya berbagai aktivitas yang dijalankannya di tengah-tengah masyarakat. Di samping mengajar, ia juga dipercaya untuk menduduki sejumlah jabatan. Di antaranya adalah sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat (sejak 1984), anggota Lajnah Pentashhih Al-Qur'an Departemen Agama sejak 1989. Dia juga terlibat dalam beberapa organisasi profesional, antara lain Asisten Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI), ketika organisasi ini didirikan. Selanjutnya ia juga tercatat sebagai Pengurus Perhimpunan Ilmu-ilmu Syariah, dan Pengurus Konsorsium Ilmu-ilmu Agama Dapertemen Pendidikan dan Kebudayaan. Aktivitas lainnya yang ia lakukan adalah sebagai Dewan Redaksi Studia Islamika: Indonesian journal for Islamic Studies, Ulumul Qur 'an, Mimbar Ulama, dan Refleksi jurnal Kajian Agama dan Filsafat. Semua penerbitan ini berada di Jakarta.

Di samping kegiatan tersebut di atas, M.Quraish Shihab juga dikenal sebagai penulis dan penceramah yang handal. Berdasar pada latar belakang keilmuan yang kokoh yang ia tempuh melalui pendidikan formal serta ditopang oleh kemampuannya menyampaikan pendapat dan gagasan dengan bahasa yang sederhana, tetapi lugas, rasional, dan kecenderungan pemikiran yang moderat, ia tampil sebagai penceramah dan penulis yang bisa diterima oleh semua lapisan masyarakat. Kegiatan ceramah ini ia lakukan di sejumlah masjid bergengsi di Jakarta, seperti Masjid al-Tin dan Fathullah, di lingkungan pejabat pemerintah seperti pengajian Istiqlal serta di sejumlah stasiun televisi atau media elektronik, khususnya di.bulan Ramadhan. Beberapa stasiun televisi, seperti RCTI dan Metro TV mempunyai program khusus selama Ramadhan yang diasuh olehnya.

Quraish Shihab memang bukan satu-satunya pakar al-Qur'an di Indonesia, tetapi kemampuannya menerjemahkan dan meyampaikan pesan-pesan al-Qur'an dalam konteks kekinian dan masa post modern membuatnya lebih dikenal dan lebih unggul daripada pakar al-Qur'an lainnya. Dalam hal penafsiran, ia cenderung menekankan pentingnya penggunaan metode tafsir maudu’i (tematik), yaitu penafsiran dengan cara menghimpun sejumlah ayat al-Qur'an yang tersebar dalam berbagai surah yang membahas masalah yang sama, kemudian menjelaskan pengertian menyeluruh dari ayat-ayat tersebut dan selanjutnya menarik kesimpulan sebagai jawaban terhadap masalah yang menjadi pokok bahasan. Menurutnya, dengan metode ini dapat diungkapkan pendapat-pendapat al-Qur'an tentang berbagai masalah kehidupan, sekaligus dapat dijadikan bukti bahwa ayat al-Qur'an sejalan dengan perkembangan iptek dan kemajuan peradaban masyarakat.

Quraish Shihab banyak menekankan perlunya memahami wahyu Ilahi secara kontekstual dan tidak semata-mata terpaku pada makna tekstual agar pesan-pesan yang terkandung di dalamnya dapat difungsikan dalam kehidupan nyata. Ia juga banyak memotivasi mahasiswanya, khususnya di tingkat pasca sarjana, agar berani menafsirkan al-Qur'an, tetapi dengan tetap berpegang ketat pada kaidah-kaidah tafsir yang sudah dipandang baku. Menurutnya, penafsiran terhadap al-Qur'an tidak akan pernah berakhir. Dari masa ke masa selalu saja muncul penafsiran baru sejalan dengan perkembangan ilmu dan tuntutan kemajuan. Meski begitu ia tetap mengingatkan perlunya sikap teliti dan ekstra hati-hati dalam menafsirkan al-Qur'an sehingga seseorang tidak mudah mengklaim suatu pendapat sebagai pendapat al-Qur'an. Bahkan, menurutnya adalah satu dosa besar bila seseorang mamaksakan pendapatnya atas nama al-Qur'an.

Quraish Shihab adalah seorang ahli tafsir yang pendidik. Keahliannya dalam bidang tafsir tersebut untuk diabdikan dalam bidang pendidikan. Kedudukannya sebagai Pembantu Rektor, Rektor, Menteri Agama, Ketua MUI, Staf Ahli Mendikbud, Anggota Badan Pertimbangan Pendidikan, menulis karya ilmiah, dan ceramah amat erat kaitannya dengan kegiatan pendidikan. Dengan kata lain bahw ia adalah seorang ulama yang memanfaatkan keahliannya untuk mendidik umat. Hal ini ia lakukan pula melalui sikap dan kepribadiannya yang penuh dengan sikap dan sifatnya yang patut diteladani. Ia memiliki sifat-sifat sebagai guru atau pendidik yang patut diteladani. Penampilannya yang sederhana, tawadlu, sayang kepada semua orang, jujur, amanah, dan tegas dalam prinsip adalah merupakan bagian dari sikap yang seharusnya dimiliki seorang guru.
Karya

Yang tak kalah pentingya, Quraish Shihab sangat aktif sebagai penulis. Beberapa buku yang sudah Ia hasilkan antara lain :
1.Tafsir Al-Manar, Keistimewaan dan Kelemahannya (Ujung Pandang: IAIN Alauddin, 1984)
2.Filsafat Hukum Islam (Jakarta:Departemen Agama, 1987);
3.Mahkota Tuntunan Ilahi (Tafsir Surat Al-Fatihah) (Jakarta:Untagma, 1988)
4.Membumikan Al Qur'an (Bandung:Mizan, 1992)
5.Fatwa-Fatwa (Bandung:Mizan). Buku ini adalah kumpulan pertanyaan yg dijawab oleh Muhammad Quraish Shihab dan terdiri dari 5 seri : Fatwa Seputar Al Qur'an dan Hadits; Seputar Tafsir Al Qur'an; Seputar Ibadah dan Muamalah; Seputar Wawasan Agama; Seputar Ibadah Mahdhah.
6.Lentera Hati: Kisah dan Hikmah Kehidupan (Republish, 2007)
7.Lentera Al Qur'an : Kisah dan Hikmah Kehidupan (Republish, 2007)
8.Mukjizat Al Qur'an : Ditinjau dari Aspek Kebahasaan, Aspek Ilmiah, dan Pemberitaan Gaib (Republish, 2007)
9.Secercah Cahaya Ilahi : Hidup Bersama Al-Quran (Republish, 2007)
10.Wawasan Al Qur'an: Tafsir Tematik atas Pelbagai Persoalan Umat (Republish, 2007)
11.Haji Bersama M. Quraish Shihab
12.Tafsir Al-Mishbah, tafsir Al-Qur’an lengkap 30 Juz (Jakarta: Lentera Hati)

Penampilan di Televisi
Selain menulis, ia juga aktif mengisi program agama Islam di televisi. Beberapa program yang cukup populer antara lain Kultum (RCTI), Tafsir Al Mishbah (Metro TV), dan Hikmah Fajar (RCTI).

Membentuk Keluarga Sakinah wa Rahmah

Memasuki dunia baru bagi pasangan baru, atau lebih dikenal dengan pengantin baru memang merupakan suatu yang membahagiakan. Tetapi bukan berarti tanpa kesulitan. Dari pertama kali melangkah ke pelaminan, semuanya sudah akan terasa lain. Lepas dari ketergantungan terhadap orang tua, teman, saudara, untuk kemudian mencoba hidup bersama orang – yang mungkin – belum pernah kenal sebelumnya. Semua ini memerlukan persiapan khusus (walaupun sebelumnya sudah kenal), agar tidak terjebak dalam sebuah dilema rumah tangga yang dapat mendatangkan penyesalan di kemudian hari. Diantara persiapan yang harus dilakukan oleh pasangan baru yang akan mengarungi bahtera rumah tangga:

Persiapan mental. Perpindahan dari dunia remaja memasuki fase dewasa – di bawah naungan perkawinan – akan sangat berpengaruh terhadap psikologis, sehingga diperlukan persiapan mental dalam menyandang jabatan baru, sebagai ibu rumah tangga atau kepala rumah tangga. Kalaupun sekarang anda telah terlanjur menyandang predikat tersebut sebelum anda sempat berpikir sebelumnya, anda belum terlambat. Anda bisa memulainya dari sekarang, menyiapkan mental anda lewat buku-buku bacaan tentang cara-cara berumah tangga, atau anda dapat belajar dari orang-orang terdekat, yang dapat memberikan nasehat bagi rumah tangga anda

Mengenali Pasangan. Kalau dulu orang dekat anda adalah ibu, teman, atau saudara anda yang telah anda kenal sejak kecil, tetapi sekarang orang yang nomor satu bagi anda adalah pasangan anda. Walaupun pasangan anda adalah orang yang telah anda kenal sebelumnya, katakanlah dalam masa pacaran, tetapi hal ini belumlah menjamin bahwa anda telah benar-benar mengenal kepribadiannya. Keadaannya lain. Masa pacaran dengan lingkungan rumah tangga jauh berbeda. Apalagi jika pasangan anda adalah orang yang belum pernah anda kenal sebelumnya. Disini perlu adanya penyesuaian-penyesuaian. Anda harus mengenal lebih jauh bagi pasangan anda, segala kekurangan dan kelebihannya, untuk kemudian anda pahami bagaimana sebaiknya anda bersikap, tanpa harus mempersoalkan semuanya. Karena sesungguhnya anda bersama pasangan anda hidup dalam rumah tangga untuk saling melengkapi satu dengan yang lainnya, sehingga tercipta keharmonisan.

Menyusun agenda Kegiatan. Kesibukan anda sebagai ibu rumah tangga atau kepala rumah tangga tentunya akan lebih banyak menyita waktu di banding ketika anda masih sendiri. Hari-hari kemarin bisa saja anda mengikuti segala macam kegiatan yang anda sukai kapan saja anda mau. Persoalannya sekarang adalah anda tidak sendiri, kehadiran pasangan anda disamping anda tidak boleh anda abaikan. Tetapi anda tak perlu menarik diri dari aktifitas atau kegiatan yang anda butuhkan. Anda dapat membuat agenda untuk efektifitas kerja, anda pilah, dan anda pilih kegiatan apa yang sekiranya dapat anda ikuti sesuai dengan waktu yang anda miliki dengan tanpa mengganggu tugas anda sebagai ibu rumah tangga atau kepala rumah tangga.

Mempelajari kesenangan pasangan. Perhatian-perhatian kecil akan mempunyai nilai tersendiri bagi pasangan anda, apalagi di awal perkawinan anda. Anda dapat melakukannya dengan mempelajari kesenangan pasangan anda, mulai dari selera makan, kebiasaan, hobi yang tersimpan dan lainnya. Tidak menjadi masalah jika ternyata apa yang disenanginya tidak anda senangi. Anda bisa mempersiapkan kopi dan makanan kesukaannya disaat pasangan anda yang punya hobi membaca sedang membuka-buka buku. Atau anda bisa sekali-kali menyisihkan waktu untuk sekedar mengantar pasangan anda berbelanja, untuk menyenangkan hatinya. Atau kalau mungkin anda bisa memadukan hobi anda yang ternyata sama, dengan demikian anda telah memasang saham kasih sayang di hati pasangan anda sebagai kesan pertama, karena kesan pertama akan selalu diingatnya. Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda (kayak iklan saja). Dan anda bisa menjadikannya sebagai kebiasaan yang istimewa dalam rumah tangga anda.

Adaptasi lingkungan. Lingkungan keluarga, famili dan masyarakat baru sudah pasti akan anda hadapi. Anda harus bisa membawa diri untuk masuk dalam kebiasaan-kebiasaan (adat) yang ada di dalamnya. Kalau anda siap menerima kehadiran pasangan anda, berarti pula anda harus siap menerimanya bersama keluarga dan masyarakat disekitarnya. Awalnya mungkin anda akan merasa asing, kaku, tapi semuanya akan terbiasa jika anda mau membuka diri untuk bergaul dengan mereka, mengikuti adat yang ada, walaupun anda kurang menyukainya. Sehingga akan terjalin keakraban antara anda dengan keluarga, famili dan lingkungan masyarakat yang baru. Karena hakekat pernikahan bukan perkawinan antara anda dan pasangan anda, tetapi, lebih luas lagi antara keluarga anda dan keluarga pasangan anda, antara desa anda dengan desa pasangan anda, antara bahasa anda dengan bahasa pasangan anda, antara kebiasaan (adat) anda dengan kebiasaan pasangan anda. Dst.

Menanamkan rasa saling percaya. Tidak salah jika suatu saat anda merasa curiga dan cemburu. Tetapi harus anda ingat, faktor apa yang membuat anda cemburu dan seberapa besar porsinya. Tidak lucu jika anda melakukannya hanya dengan berdasar perasaan. Hal itu boleh saja untuk sekedar mengungkapkan rasa cinta, tetapi tidak baik juga kalau terlalu berlebihan. Sebaiknya anda menanamkan sikap saling percaya, sehingga anda akan merasa tenang, tidak diperbudak oleh perasaan sendiri. Yakinkan, bahwa pasangan anda adalah orang terbaik yang anda kenal, yang sangat anda cintai dan buktikan juga bahwa anda sangat membutuhkan kehadirannya, kemudian bersikaplah secara terbuka.

Musyawarah. Persoalan-persoalan yang timbul dalam rumah tangga harus dihadapi secara dewasa. Upayakan dalam memecahkan persoalan anda mengajak pasangan anda untuk bermusyawarah. Demikian juga dalam mengatur perencanaan-perencanaan dalam rumah tangga, sekecil apapun masalah yang anda hadapi, semudah apapun rencana yang anda susun. Anda bisa memilih waktu-waktu yang tepat untuk saling tukar pikiran, bisa di saat santai, nonton atau dimana saja sekiranya pasangan anda sedang dalam keadaan bugar.

Menciptakan suasana Islami. Suasana Islami ini bisa anda bentuk melalui penataan ruang, gerak, tingkah laku keseharian anda dan lain-lain. Sholat berjama’ah bersama pasangan anda, ngaji bersama (tidak perlu setiap waktu, cukup habis maghrib atau shubuh), mendatangi majlis ta’lim bersama dan memnbuat kegiatan yang Islami dalam rumah tangga anda. Hal ini akan menambah eratnya ikatan bathin antara anda dan pasangan anda. Dari sini akan terbentuk suasana Islami, Sakinah, Mawaddah wa Rahmah. Insya’allah. (assyarif/mus)